Johatsu, Mereka yang Menguap



 "Mereka tidak tahu bagaimana rasanya menjadi..yang menunggu dan merindukan".
Bagaimana rasanya menghilang? Bagaimana rasanya pergi dari segala kehidupanmu dan meninggalkan identitasmu kemudian menjadi orang yang baru? Tanyakan pada mereka yang menguap, atau istilah Jepangnya, melakukan Johatsu.

Dalam buku berjudul "The Vanished: The 'Evaporated' People of Japan in Stories and Photographs, penulis sekaligus fotografer asal Prancis Léna Mauger dan Stéphane Remael membahas secara dalam mengenai hal tersebut. Dimulai dari tahun 2008, selama 5 tahun, keduanya menjelajah Jepang, berusaha mendapatkan kepercayaan dan juga cerita dari masyarakat Jepang, baik yang melakukan Johatsu, ataupun mereka yang ditinggalkan. Alasan mereka menguap beragam, mulai dari utang yang banyak, gagal dalam pekerjaan, kuliah, dan lain sebagainya. Satu hal yang jelas mendasari hal tersebut: rasa malu.

Rasa malu betul-betul tak tertanggungkan dalam benak hingga mereka merasa bahwa menjadi orang yang baru adalah jalan yang paling tepat. Pergi meninggalkan orang-orang yang mereka cintai. Pergi melepaskan diri dari identitas awal mereka yang dianggap gagal dan memalukan. Menjadi manusia baru. Mauger dan Remael juga menemukan bahwa setiap tahunnya, ada sekitar 100.000 orang yang melakukan johatsu di Jepang. Itu artinya, lebih dari 100.000 orang merasa kehilangan. Kekasih. Istri. Orangtua. Saudara. 

Menguapnya orang-orang yang malu ini, tidak dapat dilepaskan dari peran The Night Time Movers. Shou Hatori, adalah salah satu pelaku bisnis ini. Awalnya, dia merupakan penyedia jasa pindahan reguler. Namun hal itu berubah saat seorang perempuan meminta padanya untuk menghilangkan jejaknya, dan membantunya pindah ke suatu tempat tanpa seorang pun tahu. Sejak sast itu, Hatori sering membantu para manusia yang ingin menguap dari kehidupan lamanya.

Mereka yang ditinggalkan dan menunggu
Budaya yang kelam ini juga pernah direkam oleh National Geographic dalam sebuah dokumenter berjudul "The Evaporated People". Salah satu narasumber yang diwawancara oleh mereka adalah seorang istri yang suaminya hilang tanpa jejak, dan disinyalir melakukan johatsu. 


Kelamnya hari-hari perempuan tersebut usai ditinggal sang suami menguap diperlihatkan dari pengambilan gambar yang minim cahaya, menyorot ruang-ruang rumah yang sunyi. Tidak ada pertanda apalagi kata pamit, pada suatu hari, suaminya menghilang begitu saja. Tak kunjung kembali, dia dan kerabat pun berpikir bahwa sudah pasti suaminya melakukan johatsu. Entah apa alasannya. Kemungkinan masalah pekerjaan.



Namun apapun alasannya, tak akan ada pemakluman. Seperti yang dia katakan di akhir wawancara : mereka (yang melakukan johatsu) tak tahu bagaimana rasanya menjadi yang menunggu.

Antara harga diri dan tanggung jawab
Sudah bukan rahasia umum lagi apabila budaya malu di Jepang sangatlah tinggi. Kondisi inilah yang memicu banyaknya johatsu di negeri matahari terbit tersebut. Namun bila harga diri dibela begitu tinggi oleh para pelaku johatsu, lantas bagaimanakah dengan tanggung jawab?

Bukankah tanggung jawab terhadap pekerjaan yang ditinggalkan, istri yang ditinggalkan, orangtua dan anak-anak, juga menyangkut harga diri? Entahlah. Barangkali bukan harga diri yang sebetulnya dijunjung tinggi oleh para pelaku johatsu. Bukan karena merasa tak pantas, barangkali para manusia yang menguap ini hanya terlalu takut untuk menerima kenyataan terkait keadaan dirinya sendiri. 

Foto: http://goboiano.com/japans-very-real-problem-with-shame-and-evaporated-people/

Post a Comment

0 Comments