Isu Besar Upah Pekerja Perempuan Indonesia




Hari Perempuan memang sudah agak lama berlalu, tetapi gaungnya masih bisa saya rasakan hingga saat ini, setidaknya di media sosial. Bukan sekadar foto-foto yang diambil kala Women's March, terutama di ibukota negara saya, tetapi juga perdebatan tentang gender. Tentang patriarki.

Salah satu perdebatan yang masih sering muncul adalah perkara upah pekerja perempuan. Mengapa sih, gaji perempuan Indonesia selalu lebih rendah daripada pegawai lelaki, padahal dengan posisi yang sama dan kemampuan yang sama? Ini sangat diskriminatif, begitu kata mereka. Sesuatu yang kadang lelah untuk saya baca lebih lanjut.

Bukan, bukannya saya tidak suka dengan kesetaraan. Hanya saja, bagi saya ada beberapa orang yang membawa hal tersebut pada tingkat yang terlalu berlebihan. Secara subjektif, saya tidak pernah merasa bahwa sebagai perempuan, saya menjadi warga kelas dua di kantor-kantor saya.

Saya adalah kutu loncat. Saya sering berpindah-pindah pekerjaan tetap hanya karena bosan, atau tidak cocok dengan bos. Saya sering menggunakan alasan sakit untuk bisa keluar dari pekerjaan saya (bahkan saya pernah membawa obat-obatan ibu saya untuk menciptakan drama sinetron tersebut). Dari sekian perusahaan yang pernah saya hinggapi, saya tidak pernah menemukan bahwa perempuan digaji lebih rendah daripada pria dengan posisi dan kemampuan yang sama.

Lebih jelasnya, ada beberapa tolok ukur pemberian gaji terhadap para karyawan di (mantan) kantor-kantor saya:
  • Lama waktu bekerja: Semakin lama, ya gajinya semakin tinggi
  • Tingkat pendidikan
  • Pengalaman kerja sebelumnya (apakah orang tersebut pernah bekerja atau lulusan baru)
  • Kecerdasan dalam nego gaji
  • Posisi

Dilansir dari Cosmopolitan, para pekerja perempuan di Amerika Serikat dan Inggris cenderung memiliki gaji yang lebih rendah ketimbang para pekerja laki-laki. Di Amerika Serikat sendiri, gaji perempuan lebih rendah hingga 21% dibandingkan laki-laki. Sementara itu, di Inggris, gaji perempuan lebih rendah hingga 14,2 %.

Bagaimana dengan Indonesia? Dikutip dari Intisari, gaji karyawan perempuan cenderung lebih tinggi ketimbang karyawan lelaki. Berdasarkan riset Jobplanet terhadap 46ribu pekerja level staf dan 14 ribu pekerja level manajer, rata-rata gaji staf perempuan lebih tinggi 1,1% ketimbang staf laki-laki, dan rata-rara gaji manajer perempuan lebih tinggi 4,6% dari manajer laki-laki.

Layaknya riset lain, memang riset ini tak bisa menjadi tolok ukur bahwa semua pekerja perempuan memiliki gaji lebih besar ketimbang pekerja laki-laki. Namun melalui riset ini, dapat dibuktikan bahwa isu diskriminasi upah pekerja perempuan di Indonesia memang tidak sepenuhnya relevan.

Pelecehan, isu yang lebih besar
Mungkin akan lebih baik apabila kita mengangkat dan memperjuangkan isu pelecehan perempuan di tempat kerja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelecehan perempuan, terutama mereka yang bekerja di pabrik, masih sangat rawan. Hal tersebut bisa dilihat salah satunya dalam film dokumenter berjudul Angka Jadi Suara yang diproduksi oleh Federasi Buruh Lintas Pabrik.

Buruh perempuan di pabrik kerap menjadi objek pelecehan seksual, tidak hanya oleh atasan, tetapi juga oleh pekerja lawan jenis pada posisi yang setara dengan mereka. Tidak banyak yang sukarela melaporkan pelecehan seksual yang terjadi pada mereka. Hal tersebut dipicu oleh rasa malu dan juga rasa takut akan dipecat atau diintimidasi.

Selalu membicarakan diskriminasi upah pekerja perempuan di Indonesia adalah hal yang sia-sia. Pasalnya, perempuan di Indonesia toh mudah mendapatkan pekerjaan, dengan gaji yang layak. Isu upah rendah perempuan adalah sesuatu yang dicari-cari, terlalu berlebihan. Mengapa harus menambah-nambah isu yang sejatinya tak ada, kalau isu lain yang lebih nyata belum juga diselesaikan? 

Post a Comment

0 Comments