Mengapa Sebuah Adegan Film Disebut Sebagai Adegan Sadis?

Mengapa sebuah adegan disebut sadis? Apa tolok ukurnya?

Sumber: Pexel.com


Ada banyak penonton di muka Bumi ini yang menyukai adegan sadis dalam film. Namun jelas, preferensi itu tidak dianggap sebagai sebuah hal yang baik. Bahkan, penggemar film-film sadis dianggap punya bakat menjadi psikopat.

Dilansir dari Alodokter, terlalu sering menonton adegan sadis dapat memberikan pengaruh buruk pada alam bawah sadar kita. Pengaruh buruk itu antara lain seperti gangguan kepribadian anti-sosial atau gangguan paranoid.

Kita tidak perlu jauh-jauh membahas film semacam SAW, Audition, atau Rumah Dara. Ketiga film itu sudah jelas dikategorikan sebagai film-film sadis. Kamu yang benci dengan darah apalagi daging manusia terpotong-potong, ada baiknya menghindari film-film tersebut, bahkan dalam imajinasimu sekali pun.

Coba mari kita bahas film lain yang oleh sebagian orang, dikategorikan sebagai film sadis: Deadpool.  Berbagai media menyebut Deadpool sebagai film aksi yang sadis. Sebutan sadis itu disematkan lantaran keberadaan adegan seperti penggorokan leher penjahat dengan katana dan aksi penyiksaan Wade Wilson oleh para ilmuwan laboratorium kriminal. Siksaannya beragam. Mulai dari dicelupkan di dalam air,hingga disetrum.

Maka, meskipun satu jenis, pembahasan tentang Deadpool tak bisa disamakan dengan pembahasan tentang film-film lain yang sama-sama diangkat dari komik Marvel. Bagi saya pribadi, yang notabene tak suka dengan adegan sadis, menonton Deadpool tak sepenuhnya membuat saya nyaman. Bahkan saya akan berpikir ulang apabila ada seseorang yang menawari saya untuk menonton Deadpool lagi.

Namun, saya berpikir lagi: kalau saya merasa terganggu saat menonton Deadpool, kok bisa saya justru merasa bahagia saat menonton film-film Lord of The Rings dan film-film Marvel Cinematic Universe seperti Avengers: Infinity War kemarin? Padahal saya sangat sadar betul kalau ada banyak adegan sadis dalam film-film itu.

Tolok ukur adegan sadis, sampai mana?
Saya masih ingat betul dengan momen saat seorang penjahat wanita di Rush Hour tersangkut roda dan sepertinya, tubuhnya terbelah jadi dua. Adegan itu tidak ditampilkan, hanya saja, suara sobekan dan pandangan jijik tokoh protagonis seolah menandakan kalau keadaan itu betul terjadi.

Saya juga akan selalu mengingat tubuh para Orcs dan pasukan Uruk-Hai yang terpotong-potong dan terbakar layaknya oseng-oseng daging dalam trilogi The Lords of The Rings. Para pahlawan dalam film-film ini pun seolah menikmati saat-saat memenggal dan mencincang para pasukan jahanam Sauron tersebut. Membuat saya ingin melakukan hal yang sama.

Saya juga tidak akan pernah lupa dengan adegan saat pasukan Chitauri dibantai habis oleh para Avengers dalam Avengers 2010. Juga adegan saat para abdi setia Thanos dibantai habis, bahkan salah satu abdi perempuannya mati akibat tergilas roda dan darahnya sampai mengenai Black Widow.

Atau adegan saat tubuh Nebula terburai dan digantung oleh Thanos. Erangan kesakitan Nebula menggema saat bagian-bagian tubuhnya ditarik, membuat rahasia Gamora terbongkar. Namun hal itu tak pernah dikategorikan sebagai adegan sadis.

heroichollywood.b-cdn.net


Penjahat yang mati di Deadpool tak sebanyak mereka yang mati di film-film yang baru saya sebutkan tersebut. Kematiannya pun juga tak semengenaskan para penjahat itu. Setidaknya, mayat mereka tidak seperti daging Yakiniku.

Namun, Deadpool akan selalu dianggap sadis karena mereka yang disiksa dan digorok hingga berdarah-darah adalah manusia. Semakin seseorang/sesuatu terlihat sama dengan diri kita, empati kita pun akan semakin tinggi.

Stephanie Preston, ilmuwan dari Departemen Psikologi Universitas Michigan, dan Frans de Waal, direktur Living Links di Yerkes Primate Center mengatakan bahwa emosi dan pikiran kita dipersiapkan sejalur (sama) dengan orang/hal lain saat kita berempati. Artinya, pada saat itu kita merasa berada di tempat orang tersebut. Otak kita menganggap bahwa kita berada di tempat yang sama dengan orang/sesuatu.

Tak mengherankan bahwa semakin sama sesuatu dengan kita, maka semakin mudah bagi kita untuk menempatkan diri kita di tempat mereka. Misalnya, kamu adalah anak yang pernah dirundung dan kamu sedang melihat tayangan fiksi pembunuhan tentang anak korban perundungan yang membunuh perundungnya. Bisa jadi kamu akan membela si pembunuh karena kamu mungkin pernah mau melakukan hal yang sama.

Itu juga alasan mengapa kamu tak merasa risih saat melihat Darth Maul terbagi dua oleh lightsaber Obi-Wan Kenobi. Kamu bukanlah makhluk bertanduk dan berwajah merah, dan mungkin kamu tidak merasa bahwa dirimu sekejam Darth Maul.



Dan itu juga alasan mengapa kamu tidak merasa jijik saat melihat bayam yang dipotong-potong: tentu karena bagimu hal itu tidak menyakitkan bagi sebatang bayam yang jelas tak punya tekstur layaknya hewan. 

Post a Comment

0 Comments