Mitos dalam Masyarakat Kita



Sampai sekarang, hanya satu 'mitologi' yang betul-betul saya percayai. Mitologi itu tak lain adalah sebuah judul buku dari Roland Barthes: Mythologies. 

Dalam buku tersebut, Roland Barthes, seorang filsuf dan ahli linguistik Prancis mengatakan bahwa mitos adalah salah satu sistem semiologi, karena mitos merupakan sistem wicara yang membahas tanda. Mitos sendiri memiliki dua sistem semiologis. Yang pertama adalah bahasa objek (linguistik), dan yang kedua adalah metabahasa (mitos).

From Goodreads


Kita gunakan contoh tas Hermes. Dalam sistem bahasa objek, penandanya adalah Hermes, dan petandanya adalah Hermes sebagai aksesoris orang kaya. Pada sistem mitos, ada tiga tanda terkait objek ini. Pertama, bentuk Hermes sebagai aksesoris orang kaya. Kedua, konsep Hermes yang digunakan oleh seorang perempuan ke arisan, misalnya. Ketiga, mitos bahwa perempuan itu adalah orang kaya raya yang terhormat. Tanpa kita mengulik lagi apakah perempuan itu hanya meminjam Hermes temannya, ataukah berutang untuk membeli tas mewah tersebut, supaya kelas sosialnya naik.

 
From Fortune

Itulah alasan mengapa kita sulit terlepas dari stereotip yang telah kita dengar sejak kita kecil, dan telah diyakini oleh lingkungan sekitar kita. Kita bisa saja merasa marah dengan orang-orang yang melabeli suku tertentu dengan karakter-karakter tertentu. Namun kita tidak bisa menghapusnya, seberapa dalam pengetahuan kita tentang hal itu. Kamu mungkin bisa memberi tahu orang di sekitarmi bahwa tidak semua orang Prancis sombong, misalnya. Namun bila lingkunganmu sudah terlanjur meyakini hal itu, nasehat dan bukti darimu tak akan pernah mempan.

Ada satu contoh nyata terkait hal tersebut. Well, masih ingat dengan kasus Gita Savitri yang masih hangat? Ini juga ada hubungannya dengan masalah mitos.

Gita Savitri Dewi adalah seorang pemengaruh media sosial yang terkenal karena video-videonya di Youtube, baik video tentang kehidupan di Jerman maupun video yang menampilkan bakat menyanyinya. Berkuliah di Jerman, memutuskan untuk mengenakan hijab, dan memiliki kekasih yang mualaf membuat Gita Savitri Dewi menjadi salah satu kekasih hati warganet Indonesia. Ada banyak pernyataannya yang kontroversial. 

From GNFI


Mulai dari kritiknya tentang makanan dengan harga di atas seratus lima puluh ribu rupiah, hingga kasus pelecehan seksual beberapa waktu lalu. Sebuah akun palsu melecehkan Gita menggunakan foto orang, dan Gita dengan gegabah menyebar foto tersebut. Saat sang pemilik foto menegurnya dan memintanya untuk mengucap maaf, Gita berkata bahwa dirinya sudah melakukan hal itu, dan malah berkata kasar pada pemilik foto tanpa sebab.

Meski begitu, masih banyak yang membela Gita dan menganggap bahwa apa yang dia lakukan adalah wajar. "Perempuan emosi setelah dilecehkan itu wajar." Namun entahlah, apakah marah pada seseorang yang kamu rugikan masih bisa dianggap wajar? Apakah ketika kamu marah, semua orang harus memahamimu hanya karena kamu baru saja menjadi korban tindak kriminal?

Tentu saja pembelaan terhadap Gita ini tak terlepas dari mitos bahwa seorang perempuan seperti Gita adalah perempuan pintar dan sholehah. Gita adalah idola. Gita adalah panutan. Saat dia melakukan kesalahan, itu adalah sebuah kekhilafan. Saya pun tidak membayangkan andaikata Gita adalah Awkarin (yang terkenal bandel dan blak-blakkan), apakah masyarakat masih bisa maklum?


Sebuah masalah besar mengingat ada banyak orang yang bisa dengan mudah memaafkan salah satu oknum figur publik hanya karena dia merepresentasikan sesuatu yang baik, dan sulit memaafkan figur publik lainnya karena sosoknya merepresentasikan sesuatu yang buruk.  

Post a Comment

0 Comments