Mengapa Kamu Suka dengan Drama Korea?


Pierre Bourdieu, salah seorang filsuf kaliber Prancis, sempat menyatakan dalam bukunya bahwa selera itu tidaklah netral. Maka, saat seorang perempuan tidak menyukai drama Korea dan perempuan lain sangat menyukainya, bisa dibilang itu masalah selera saja. 

Namun apakah kiranya yang mendasari selera tersebut? Bukan pendidikan, apalagi latar belakang keluarga. Pasalnya, penggemar drama Korea berasal dari berbagai kalangan. Terlalu naif apabila beranggapan bahwa penyuka drama Korea hanya berasal dari satu kalangan tertentu. 



Dalam buku yang berjudul Civil Servant on The Silver Screen, Hollywood's Depiction of Government and Bureaucrats, ada beberapa alasan mengapa kita menyukai tontonan (dalam hal ini film), dengan genre tertentu. Pertama, kita suka dengan aspek sosial dalam menonton film. Bukan perkara film yang menarik atau berkualitas tinggi, tetapi dengan siapa kita menonton film. Kita menikmati waktu yang dihabiskan dengan keluarga, sahabat, bahkan kekasih dalam aktivitas menonton film tersebut.

Masih dilansir dari buku yang sama, aspek sosial ini juga mencakup fear of missing atau takut akan ketertinggalan. Berilah contoh The Avengers:Infinity War yang tayang beberapa waktu lalu. Banyak orang yang menonton bukan karena mereka menggemari semesta Marvel, tetapi karena mereka tidak ingin terlihat bodoh saat orang-orang membahas tentang debu-debu hasil ulah Thanos.

Dan ada pula alasan lain mengapa seseorang suka menonton film: beberapa film menyentuh nilai-nilai yang mereka yakini dalam kehidupan. Untuk yang terakhir ini, sebetulnya bisa dikaitkan dengan masalah selera.

Nilai, Keinginan, dan Tontonan Kesukaan
Mengapa ada orang yang suka dengan drama Korea? Mengapa saya suka serial kriminal? Mengapa Anda suka sinetron reliji? Atau mungkin, mengapa Anda suka film superhero?

Berbagai jenis tontonan bukanlah sekadar hiburan, tetapi bisa jadi sesuatu yang merepresentasikan hal-hal yang kita apresiasi dalam hidup. Hal-hal tersebut bisa saja sudah menjadi kenyataan, atau malah belum.

Saya pernah berbicara dengan seorang wanita yang sangat menyukai film-film Indonesia dengan tema patriotisme. Usut punya usut, hal tersebut ada hubungannya dengan identitas sang suami yang merupakan anggota dari TNI. Menonton film-film semacam itu membuatnya semakin bangga dan menghargai apa yang dikerjakan oleh suaminya. Film seperti Jelita Sedjuba, yang berkisah tentang istri tentara, juga dia sukai betul lantaran mampu menjabarkan perasaan yang beberapa kali dia pendam terkait tugas sang suami.

Bertanya kepada diri sendiri, saya menyukai serial kriminal dan kisah-kisah mafia lantaran saya tak betul-betul berani mengungkapkan kekesalan saya pada orang. Saya bisa marah, tetapi hanya di belakang dan kalau pun di depan, itu karena seseorang sudah keterlaluan. Saya juga memiliki banyak kebencian yang belum tuntas, dan sejujurnya, melihat Al Capone dan Vito Genovesse mengacungkan senjata membuat keinginan saya untuk membalas dendam terwakilkan.

Beberapa teman yang sangat menyukai drama Korea mengakui bahwa drama Korea mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan pria romantis. Bayangkan, kapan lagi kamu, yang seorang gadis biasa, bisa mendapatkan perhatian dari bosmu yang dingin dan sombong?Atau, kapan lagi ada pria yang bisa berdandan semanis itu? "Pasangan tidak tampan dan tidak pandai berdandan", serta "Saya lama jomblo", adalah dua alasan yang sering saya temui saat saya bertanya mengapa mereka suka dengan drama Korea. Sisanya, menyukai drama Korea karena pengaruh teman, dan karena cerita yang ringan.

Pada dasarnya, kesukaan kita terhadap sebuah tontonan bisa dilandasi oleh banyak hal. Namun, yang membuat kita betul-betul suka dengan sebuah tontonan, bahkan bila tidak ada orang lain yang menyukainya, adalah karena tontonan itu menyentuh. Bukan hanya menyentuh nilai, tetapi menyentuh perasaan. Entah tontonan itu sesuai dengan nilai yang dia anut, atau bahkan, memberikan sesuatu yang tidak dia miliki.

Teman saya menyukai What's Wrong With Secretary Kim karena dia tidak memiliki lelaki tampan dan berkelas yang bisa melakukan hal-hal romantis kepadanya.

Saya menyukai The Mentalist karena saya ingin bisa secerdas Patrick Jane dalam membalas dendam dan mengungkap konspirasi kejahatan.

Saudara saya menyukai Confession of A Shopaholic serta 50 Shades of Grey karena dia suka membayangkan andaikata dia memiliki bos yang keren, cerdas, dan menyukainya.

Mantan rekan kerja saya menyukai film-film pahlawan super, katakanlah seperti The Dark Knight Trilogy, karena dia ingin kuat dan terhormat layaknya Batman atau Bruce Wayne.


Dan itulah ajaibnya film serta serial. Mereka memberikan dunia yang tak kita miliki di dunia nyata, bahkan bila kita bisa mengulang hidup dari awal sekalipun, layaknya bermain game.


Foto: Google

Post a Comment

0 Comments