Teror Horor Keluarga, dari Hereditary sampai Sebelum Iblis Menjemput



Ada yang menarik saat melihat tema dari beberapa film horor yang banyak ditonton oleh masyarakat dan menuai pujian beberapa waktu belakangan ini. Mulai dari Pengabdi Setan, Hereditary, Kafir, hingga Sebelum Iblis Menjemput. Film-film itu memiliki tokoh dan plot yang berbeda. Namun satu hal yang sama dari film-film tersebut: kentalnya tema keluarga.

Pengabdi Setan, bercerita tentang sebuah keluarga yang dihantui oleh sosok ibu mereka yang sudah meninggal (dan juga rekan-rekan dedemit sang ibu). Hereditary, berkisah tentang keluarga disfungsional yang dihantui oleh warisan "ilmu hitam" sang nenek. Kafir, berkisah tentang keluarga yang mulai mengalami teror semenjak sang ayah mati dengan cara ganjil. Yang terakhir, Sebelum Iblis Menjemput, mengawali cerita dengan rentetan teror iblis yang disebabkan oleh ritual pesugihan yang dilakukan sang ayah.

Kekuatan masing-masing film tersebut berbeda. Sebelum Iblis Menjemputmeneror penonton dengan penampakan setan dan serangan sadis yang bertubi-tubi, tanpa ampun. Kafirberfokus pada misteri dan ketakutan sang ibu. Hereditary juga serupa, menyorot ketakutan dan kekhawatiran sang ibu. Dan Pengabdi Setan, menjadikan penampakan Ibu yang tiba-tiba serta bunyi lonceng Ibu sebagai sesuatu yang traumatis.

Kekuatan-kekuatan yang berbeda itu disatukan oleh tema keluarga dan juga rumah. Dalam film-film tersebut, Anda tak akan disuguhkan cerita tentang sekumpulan remaja labil yang sengaja memanggil setan, atau dengan bodohnya mendatangi tempat yang diduga angker untuk menantang sang penunggu. Formula itu bagus, tetapi konsep "pergi jalan-jalan bersama di tempat yang sepi bersama teman-teman dan pacar" sepertinya rentan akan kegagalan.

Keluarga dan teror yang mengancam hingga ke ubun-ubun
Teman bisa datang dan pergi. Kamu bisa saja dekat dengan seseorang dan menganggapnya sebagai sahabat, tetapi beberapa tahun kemudian, kalian menjadi orang asing satu sama lain lantaran masalah tertentu, atau karena perbedaan pandangan. Ketika temanmu terindikasi bersekutu dengan dukun dan iblis, sebagai orang waras kamu bisa menjauhinya dan mencoretnya dari daftar orang yang akan kamu hadiahi bridal shower di masa mendatang.

Namun keluarga tetaplah keluarga. Seberapa jauh kamu dengan mereka, bila kamu telah bersama dengan mereka sejak kecil, tumbuh bersama mereka, apalagi punya pertalian darah dengan mereka, sulit rasanya untuk memutuskan hubungan. Bahkan bila salah satu anggota keluargamu ternyata mengikuti sekte sesat yang menjanjikan kekayaan duniawi.

Alfie, tokoh utama dalam Sebelum Iblis Menjemput, toh pada akhirnya tetap menjenguk sang ayah yang terkena penyakit aneh. Dalam Hereditary, Annie tetap mengantarkan sang ibu ke liang lahat meskipun dia mencurigai aktivitas mistis sang ibu. Tidak ada yang bisa memutuskan pertalian darah.

Layaknya animasi Coco, pertalian keluarga tak akan putus meskipun mereka mati. Bedanya, pertalian antara anggota keluarga yang mati dan yang hidup dalam animasi Coco merupakan pertalian yang positif dan membangun. Sementara itu, pertalian dalam film-film horor di atas justru membawa tokoh-tokoh pada nasib naas. Gara-gara ulah satu anggota keluarga yang berkawan dengan dedemit, anggota-anggota lain kena imbasnya. Keluarga tak lagi bisa menjadi tempat untuk berlindung.

Dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992, keluarga sebagai satuan unit terkecil dalam masyarakat memiliki beberapa fungsi. Nah, fungsi afeksi dan fungsi perlindungan juga masuk di dalamnya. Keluarga semestinya menjadi tempat untuk berlindung dan tempat bagi kita untuk mendapatkan kasih sayang.

Ketika salah satu anggota keluarga justru menjerumuskan kita pada bahaya, maka hilanglah banyak fungsi dasar keluarga pada kehidupan seorang manusia. Tidak ada lagi tempat berlindung utama, tidak ada lagi tempat yang baik untuk mendidik secara informal, dan tidak ada lagi tempat untuk mendapatkan kasih sayang. Bila dikaitkan dengan keluarga sebagai tempat pembelajaran agama (yang juga tertuang dalam Undang-Undang tersebut) persekutuan dengan setan juga merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran agama di Indonesia.

Maka itulah alasan mengapa film-film horor bertema keluarga selalu berhasil meneror kita semua. Film-film itu berhasil menghilangkan 'kepercayaan' kita pada anggota keluarga selama beberapa waktu saat kita duduk di kursi bioskop. Usai menonton film tersebut, bisa saja rasa was-was sempat terbesit saat kita pulang ke rumah dan bertemu dengan anggota keluarga lain. Bagaimana bila salah satu anggota keluarga kita berkawan dengan setan? Bagaimana bila rumah kita dihantui?

Teror horor, bukan sekadar tentang wajah seram
Dalam Uncanny, Sigmund Freud pernah mengatakan: "every affect belonging to an emotional impulse, whatever its kind, is transformed, if it is repressed, into anxiety"

Film horor yang baik dan mampu meneror masyarakat menitikberatkan pada aspek-aspek yang mampu menyentuh sisi emosional manusia. Manusia sejatinya lebih takut kepada "kejutan" dan keadaan bahwa mereka diintai diam-diam ketimbang wajah-wajah mengerikan.

Itulah alasan mengapa banyak film dengan muatan setan berwajah mengerikan yang justru tidak digolongkan dalam film horor. Constantine misalnya. Film itu berkisah tentang detektif yang bertujuan untuk melawan arwah-arwah dan iblis di dunia. Orang kesurupan, setan berwajah mengerikan, dan juga pemujaan-pemujaan ditunjukkan habis-habisan di sana.

Namun John Constantine, sang detektif tidak digambarkan sebagai orang yang rapuh. Dia berani melawan para iblis dan kemunculan para iblis itu pun tidaklah digambarkan mengejutkan layaknya formula-formula film horor. Kontrol penuh John atas dirinya dan atas hantu-hantu membuat kita merasa aman. Bahkan bisa dibilang tanpa adanya hantu dan iblis, John bisa-bisa kehilangan pekerjaannya. Lain halnya dengan Alfie 'Sebelum Iblis Menjemput', atau Annie 'Hereditary' yang bahkan tak tahu apa bahaya yang mengintainya.

Kita takut karena tokoh utama takut. Kita cemas karena tokoh utama kehilangan hal-hal yang dalam hidup kita juga berarti.


Apabila wajah seram adalah kunci mengerikannya sebuah horor, tentu The Lord of The Rings dan Hansel and Gretel: Witch Hunter sudah menjadi film horor terseram bagi kita dengan Orcs dan para penyihir beraliran hitam yang wajahnya tak karuan itu.

Begitulah, ketakutan. Sejatinya bukan hanya sekadar karena siapa yang membuat kita takut, tetapi mengapa kita bisa takut.

Foto: Google

Post a Comment

0 Comments