Bagaimana Menyebalkannya Media Membuat Berita Untuk Meresahkan Masyarakat



Ada penyakit pada media kita

Kalimat di atas mungkin terdengar menyebalkan, tetapi memang begitulah adanya. Memang sih, semakin banyaknya media yang ada dan semakin banyaknya platform agregator berita membuat pekerjaan saya semakin mudah. Untuk mencari informasi buat bahan pekerjaan, saya tidak perlu pusing lagi, terlebih kalau klien meminta saya menuliskan artikel-artikel yang harus punya relevansi dengan berita-berita yang sedang gencar-gencarnya dibahas.

Namun, pesatnya perkembangan teknologi (yang akhirnya berpengaruh ke media ini) sontak membuat banyak media jadi semakin agresif saja dalam memberitakan sesuatu. Ratna Sarumpaet operasi plastik, berbagai media tidak hanya memberitakan kejadian itu, tetapi juga membuat judul lain semacam "Selain Ratna Sarumpaet, Artis-Artis Ini Juga Lakukan Operasi Plastik" dan juga "Meme Ratna Sarumpaet dari Netizen Maha Benar".


Ini tidak ada hubungannya dan tidak etis juga. Masalahnya, selebritas lain melakukan operasi plastik tanpa perlu berbohong kalau mereka dipukuli atau kalau mereka tidak sengaja jatuh ke aspal misalnya. Namun berita-berita 'enggak nyambung' ini akan selalu mewarnai berbagai platform agregator dan juga akan menghiasi mesin pencarian di Google.

Kondisi yang sama juga terjadi pada berita gempa dan tsunami di Palu. Saya mengapresiasi beberapa media yang memberitakan kejadian itu dengan baik, seperti misalnya berita bahwa aktivitas perekonomian di Palu sudah mulai bangkit (dan herannya, berita ini diunggah oleh media yang sama dengan media yang memberitakan tentang selebritas yang operasi plastik layaknya Ratna), atau berita bahwa Sulteng sudah mulai bangkit oleh TVRI dan Indosiar.

Namun, media-media juga menebarkan teror terkait gempa di tempat lain. Contohlah seperti media yang kabarnya menjadi media yang terbanyak diakses ini (berkat jasa clickbait dan juga gempuran ribuan artikel per harinya). Media ini memiliki berbagai platform yang dinamai dengan nama-nama kota besar, seperti Banjarmasin, Aceh, dan lain sebagainya. Anehnya, mereka memberitakan potensi gempa yang ada di..Jakarta. Bukan hanya itu saja, ada beberapa media lain lagi yang juga memberitakan tentang sesar yang ada di bawah Jakarta.

Kita memang juga harus menyalahkan brengseknya penyebar hoaks yang mengatakan bahwa Jakarta akan diterjang gempa dalam waktu dekat. Namun, media-media yang lantas menyambung-nyambungkan bencana di Palu dan Donggala dengan kota lain sangatlah menyebalkan.

Mungkin oknum-oknum media itu berjasa dalam memberikan informasi bahwa kita harus siaga dalam menghadapi bencana. Saya juga sangat berterima kasih pada media yang memberikan kita tips dalam mempersiapkan diri terhadap bencana. Namun, menakut-nakuti masyarakat kalau Jakarta dan daerah lain juga berpotensi gempa besar saat Sulawesi Tenggara baru diterjang tsunami adalah hal yang tidak membantu.

Begini. Bulan Januari lalu, Jakarta juga sudah diterjang gempa walaupun kecil. Berbagai media pun sudah mengulas kemungkinan gempa di Jakarta pada waktu itu. Masyarakat Jakarta juga seharusnya sudah tahu bahwa mereka tinggal di atas tanah yang rawan gempa.

Kembali lagi ke masalah tsunami Palu, mendengar kabar soal hal tersebut pun sudah cukup membuat masyarakat merasa sedih dan takut. Mengingatkan masyarakat terkait potensi gempa di daerah lain (yang padahal belum terjadi), bukanlah saat yang tepat dilakukan pada saat ada bencana besar. Mengapa tidak fokus mengulas tentang penyelamatan diri saat gempa? Bagaimana membuat alarm manual untuk membuat kita sadar bahwa ada getaran gempa? Atau, ulasan mengenai berbagai bangunan di Jakarta dan di kota lain yang sudah didesain tahan gempa?

Ya, berbagai media memang juga sudah membuat berita itu. Namun, tentunya tidak semasif berita tentang Jakarta yang berpotensi terkena gempa. Padahal, ketakutan pun sudah cukup jadi penghalang utama buat masyarakat tetap tenang saat mempersiapkan diri menghadapi bencana.

Dan supaya masyarakat bertambah resah nan kesal, ditambahkan pula berita bahwa "bukan sekadar rawan gempa, Indonesia juga rawan hoaks".

Post a Comment

0 Comments