Menjadikan Kesedihan Orang Lain Sebagai Kesempatan Untuk Mengeluh



Sebetulnya ada batas yang amat tipis antara benar-benar berempati dan menjadikan sebuah musibah sebagai komoditas untuk unjuk diri.

Ada banyak kawan saya yang memang bekerja di media dan kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada Senin pagi merupakan sesuatu yang harus mereka liput dan mereka ulas (baik yang bekerja sebagai wartawan, penulis konten, social media officer, dan sebagainya). Banyak yang cukup waras dan bereaksi secara benar, mulai dari berempati dan sekadar mengabarkan berita terkini tentang masalah tersebut.

Namun ada pula kenalan saya yang justru mengeluhkan hal tersebut sebagai sesuatu yang membuat "Hari Senin"-nya menjadi semakin berat. Ya, dengan adanya kecelakaan pesawat tersebut, pekerjaannya tentu bertambah. Dia bahkan harus rela memperpanjang waktu kerjanya entah sampai kapan karena kecelakaan Lion Air.

Bagi saya, membagi keluhan mengenai beban pekerjaan di media sosial adalah hal yang amat tidak berperikemanusiaan.

Wajar bila seseorang mengeluh karena beban kerjanya semakin berat. Namun bukankah kesempatan untuk bisa bangun pagi dan bekerja adalah sesuatu yang harusnya disyukuri? Di saat ada puluhan anggota keluarga yang bahkan merasakan kehilangan dan mungkin rela menukar apapun, termasuk waktu, agar anggota keluarga mereka dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Saat para korban di dalam pesawat itu, pada detik-detik terakhir hidup mereka mungkin rela lembur tanpa dibayar selama berhari-hari kalau hal itu bisa mengembalikan waktu sebelum mereka naik ke pesawat tersebut.

Ada banyak hal yang dikeluhkan manusia di muka Bumi ini, dan herannya, keluhan itu seringkali tak mengenal tempat. Lagipula, bila kamu sudah tak suka dengan apa yang kamu kerjakan, mengapa kamu tidak beranjak? Seperti yang pernah Albert Camus katakan: satu-satunya jalan untuk berdamai dengan hidup yang tidak bebas ini adalah menjadi bebas secara absolut hingga keberadaanmu menjadi sebentuk pemberontakan.

Atau, mereka yang mengeluh merasa bahwa dengan mengeluh, maka mereka ada? Apalagi bila keluhan itu memiliki hubungan erat dengan apa yang sedang hangat dibahas. Menjijikkan, bukan?

Post a Comment

0 Comments