Apakah Kita Membuat Orang Lain Berdosa?


Aristoteles pernah berkata, "Di dalam segala hal yang ada di alam semesta ini, sesungguhnya kita bisa melihat banyak keajaiban." Ya, memang benar. Segala unsur yang ada pada alam semesta mulai dari cara kerja, elemennya, hingga hasil akhir, semua serba ajaib. Seperti sebuah "abracadabra" dari kekuatan abstrak, segalanya umpama permainan sulap.

Hal-hal ajaib paling dekat dengan kita adalah diri kita sendiri. Sebuah kesatuan roh dan jasad yang selama ini kita anggap milik kita, ternyata tidak benar-benar bisa kita kendalikan. Artinya, diri kita sejatinya bukanlah milik kita. Lebih-lebih memiliki, mengenal pun mungkin tidak begitu. Apa kamu tidak setuju dengan pernyataan itu? Jika tidak, mungkin kamu akan berubah pikiran ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
1. Berapa jumlah huruf nama kamu?
2. Berapa huruf A dalam nama kamu?

Apa kamu masih perlu berpikir untuk menjawab? Atau kamu masih butuh waktu untuk bertanya pada dirimu sendiri terlebih dahulu? Lalu, siapa sebenarnya kamu? Dan siapa dirimu? Apa sekarang kamu merasa bahwa kamu sedang berdialog pada dirimu sendiri? Ajaib, bukan?

Hal-hal dasar seperti itu, lebih baik kita abaikan terlebih dahulu. Setelahnya, mari kita lihat ke luar. Melihat manusia-manusia ajaib lainnya. Dalam hal ini masyarakat luas.

Tempat manusia berpijak alias planet bumi selalu dihebohkan oleh keajaiban-keajaiban penghuninya, kita sering menyebutnya berita. Bukan sebuah keajaiban yang membuat kita tersenyum lalu manggut-manggut, tapi lebih kepada hal-hal yang membuat kita mengernyitkan dahi dan geleng-geleng.

Ya, televisi, radio, juga media lain terasa penuh sesak oleh berita-berita kelakuan bejat manusia terhadap manusia lain. Pembunuhan karena dendam, pencurian, kerusuhan, hal-hal itu cukup membuat bulu kuduk merinding. Bagi sebagian orang, mungkin mereka akan menyumpah pelaku karena telah menutup mata dan berlaku keji. Namun apakah kamu pernah berpikir bahwa tidak akan ada api tanpa benda-benda yang mudah terbakar?

Manusia punya akal untuk memutuskan apakah sesuatu baik atau buruk bagi dirinya. Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa keputusan-keputusan manusia juga didasarkan pada kebiasaan di sekitar yang telah dia lihat sejak kecil. Begitu pula standar norma dan kesopanan yang dia pegang.


Manusia yang sejak kecil dibesarkan dengan kekerasan, akan cenderung menganggap kekerasan itu wajar. Manusia yang terbiasa mengonsumsi tayangan tak berkualitas, seperti berita-berita dan drama provokatif, pola pikirnya pun menjadi cenderung menghakimi. Begitulah kiranya manusia. Lalu siapa yang patut disalahkan?

Mereka yang sengaja mencuci otak manusia dengan hal-hal yang merugikan.

Post a Comment

0 Comments