Hidup Perkotaan yang Penuh dengan Absurditas


Aku duduk di sebuah taman, di tengah keramaian. Bola mataku bergerak-gerak, mengamati situasi yang tak asing: lalu lalang manusia yang sedang memperjuangkan hidupnya.

Mereka tidak tampak bahagia. Alih-alih bahagia, walau mereka memakai setelan jas dan mengendarai mobil, atau orang-orang miskin yang berkeliling taman untuk minta recehan, wajah mereka tidak jauh beda: wajah yang suka memusingkan kehidupan.

Di sudut lampu merah, gelandangan pura-pura memincangkan kakinya, merayu para pengendara. Di pinggir jalan, tukang parkir membodohi orang-orang dengan kata: mau ke arah mana?

Lalu, aku memalingkan wajahku. Sialnya, hal-hal memuakkan masih saja aku temui. Sebuah pemandangan bos-bos besar tampak bicara omong kosong tentang perusahaan, untung rugi, saham, dan membicarakan para pegawai yang suka telat. Politisi menyusun strategi politik dengan serius. Serius mencari cara untuk mengelabuhi masyarakat.

Sedang di sudut lain, aku melihat sekumpulan mahasiswa mengeluh karena uangnya habis untuk ongkos parkir dan pengamen. Para pegawai berwajah kusut mengeluhkan gaji dan pangkat. Manusia paruh baya mengelap keringat setelah mengayuh becak butut, lalu beranjak untuk shalat.

Aku semakin tidak mengerti, seberapa ragam pikiran manusia tentang kehidupan. Rasa-rasanya semakin sulit untuk menggolongkan mereka dalam beberapa sebutan. Sebab, sekilas mereka terlihat berbeda. Lalu, ketika kita menyelam lebih dalam, mereka benar-benar jauh berbeda. Ya, manusia diciptakan dengan keunikan yang tidak bisa dipahami.

Akan tetapi, ada satu hal yang aku pikirkan lama. Kenapa banyak manusia yang memperjuangkan hidup? Bukankah kata 'perjuangan' ditujukan untuk sesuatu yang belum kita capai? Lalu, apa dan di mana kita selama ini? Bukankah ini sebuah kehidupan? Atau, apa sebenarnya mereka memperjuangkan kematian: hal pasti yang akan mereka capai? Namun, kenapa mereka berjuang dengan cara yang membosankan? Saling membicarakan di belakang berulang-ulang, misalnya. Bukankah itu kegiatan yang membosankan? Apa, perjuangan memang seperti itu? Dengan mengeluh, berpura-pura dan membenci. Padahal, konsep kehidupan yang selama ini diajarkan adalah saling mengasihi, hidup dengan tegar dan sabar. Lantas, apa ini? Aku benar-benar semakin tidak mengerti.

Apa kamu juga sama lelahnya dengan mereka?

Post a Comment

0 Comments