The Scream dan Letusan Krakatau 1883




Lukisan yang kami unggah ini merupakan sebuah karya seni fenomenal berjudul 'The Scream', dibuat pada tahun 1893 oleh seniman Norwegia Edvard Munch. The Scream tidak hanya menjadi lukisan yang menyeramkan dan mengganggu ketenangan jiwa, tetapi juga dianggap sebagai lukisan yang filosofis.



Ada beberapa anggapan terkait lukisan ini. Pertama, lukisan ini dianggap sebagai bentuk kegelisahan eksistensialisme. Sang tokoh utama, dengan bentuk wajah tak simetris dan kedua tangan melekat rapat pada wajah, menggambarkan kondisi jiwa yang tak sehat, penuh ketakutan dan kecemasan.

Namun nampaknya, langit merah di lukisan ini merupakan sesuatu yang nyata, sepertinya wujud dari langit yang gelap akibat letusan Krakatau. Anggapan kedua ini, diperkuat dengan pernyataan Edvard Munch dalam buku hariannya: I was walking down the road with two friends when the sun set; suddenly, the sky turned as red as blood. I stopped and leaned against the fence, feeling unspeakably tired. Tongues of fire and blood stretched over the bluish black fjord. My friends went on walking, while I lagged behind, shivering with fear. Then I heard the enormous infinite scream of nature.

"Saya sedang berjalan-jalan bersama dua teman ketika matahari terbenam. Tiba-tiba, langit memerah darah. Saya berhenti, bersandar di sebuah pagar, ada kelelahan yang tak terdefinisikan. Seolah ada lidah api dan darah membentang di atas Fjord (danau) biru kehitaman. Saat teman-teman saya berjalan, yang bisa saya lakukan hanya berdiam diri, terbalut ketakutan. Lalu saya merasa mendengar jeritan tak terbantahkan dari alam".

Letusan Krakatau 1883 memang sangat besar. Begitu besarnya, hingga 1/3 bagian dunia pada kala itu menjadi gelap akibat abu letusannya. Entah Munch mengerti tentang hal ini atau tidak, yang jelas, jeritan tokoh lukisan dipengaruhi oleh 'kemarahan' alam.
Dan kali ini, sebuah musibah tengah terjadi di Banten dan Lampung akibat letusan anak Krakatau. Mari berdoa yang terbaik bagi mereka. #edvard #munch #krakatau #krakatoa #tsunami

Post a Comment

0 Comments