Curahan Hati Tentang Media Daring



Kamu mau jadi wartawan? Berharap dengan profesi tersebut, kamu bisa menjadi lilin di tengah gelap gulitanya dunia? Hmm, niatmu baik, tetapi mungkin akan terganjal oleh berbagai perusahaan media yang memperlakukan berita bak barang grosiran.

Tidak ada yang salah, kok, dari menulis berita dalam jumlah banyak atau menulis berita advertorial sesuai pesanan. Namun tentu saja, etikanya harus ada. Untuk apa membaca sepuluh berita yang isinya sama? Hanya dipotong-potong seperti layaknya buah-buahan? Atau membaca artikel advertorial (iklan/pesanan) yang tidak diakui sebagai iklan?

Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun lalu, ketika melewati wawancara kerja di sebuah media daring. Waktu itu, saya ditanya mengenai kesanggupan membuat sepuluh berita (wawancara/saduran dari situs luar negeri). Saya setuju karena menurut saya jumlah itu tidak banyak. Namun saat saya melihat kembali konten media daring itu, rupanya 10 berita bisa saja merupakan berita yang 'mirip-mirip' hanya saja dipecah-pecah.

Coba geser ke kanan. Kamu akan melihat ada lkma berita tentang Nikita Mirzani melepas jilbab. Dua berita tentang Nurhadi. Semua berita itu mirip. Padahal, media daring bertugas untuk menyampaikan informasi yang jelas dan tidak berbelit-belit. Media daring bukan situs promosi produk, mereka seharusnya tahu etika yang betul.

Bukan hanya sekadar kemiripan berita, ada juga masalah berita tak penting yang seolah-olah harus dipikirkan masyarakat. Katering pernikahan? Mantan pingsan di resepsi, apa maknanya? Siapa mereka?

Baiklah, media-media daring saat ini memang lebih mirip pabrik penghasil barang dalam jumlah besar daripada, yah, media massa. Mengapa mereka tidak sekalian berjualan berita sachetan? Oh, sudah ya, dalam ranah politik? Karena pemilik-pemiliknya toh juga sudah terlihat jelas memihak siapa dan apa.

Post a Comment

0 Comments