[Seputar game] Covet Fashion: Mencicipi Manis Getirnya Kehidupan Sosialita


Manusia adalah makhluk yang cenderung suka dipuji dan ingin tampil beda. Keunikan akan membuat diri kamu merasa istimewa. Saat kamu punya sesuatu yang spesial yang tidak dimiliki orang lain kebanyakan, maka kamu akan menganggap dirimu berada di level atas. Dengan begitu, perasaan puas dan bahagia akan menyelimuti dirimu.

Beberapa orang memilih cara meningkatkan kualitas diri dengan menggunakan pakaian mahal. Minimal dari brand-brand terkenal, atau malah dari designer tersohor yang karyanya limited edition (edisi terbatas).

Sayangnya, tidak semua orang bisa seperti itu. Ujung-ujungnya malah jadi panjat sosial. Kamu pasti sering lihat, kan, banyak orang khususnya remaja yang ingin menaikkan kualitas dirinya dengan memaksakan diri?

Untuk kamu-kamu para hypebeast, pasti tidak asing dengan game 'Covet Fashion', kan? Game-nya para pencinta fashion nih. Kalau kata teman saya yang suka dengan game ini, "Kamu bakal merasakan gimana susahnya cari koin untuk membeli dress supaya mendapat banyak jempol dan bahagianya saat kamu memenangkan event tersebut."

"Kalau sudah benar-benar mentok tidak dapat koin, terpaksa harus meminjam pakaiannya teman." Tambahnya.

Setelah saya mendengar ceritanya, jadi paham bahwa sejatinya manusia secara tidak sadar akan meninggikan standar kebahagiaan hidupnya supaya tidak kalah dari orang lain.

Kamu mungkin akan merasa minder dan jatuh saat tidak bisa mencapai apa yang bisa dicapai orang lain. Kalau dihubungkan dengan pembahasan kita saat ini sih, kamu akan merasa begitu miskin dan menyedihkan saat tidak bisa membeli pakaian dari brand terkemuka.

Kamu akan menjadi gusar dan jarang bahagia. Kamu akan menekan dirimu. Dampak paling buruknya, kamu jadi tidak sadar diri dan berani melakukan segala cara agar bisa mencapai tujuanmu. Seperti di Covet Fashion tadi, demi bisa memenuhi hasrat, kamu pinjam barang mewah milik temanmu. Lebih parah, kamu bisa sampai bertindak kriminal hanya supaya memuaskan nafsu dunia.

Kamu jadi lupa bahwa untuk bahagia, banyak hal-hal sederhana yang membahagiakan.


Tidak ada yang salah dari bermain game, sama seperti tidak ada salahnya kehidupan ini. Namun, mereka yang menganggap bahwa sesuatu adalah mutlak tolok ukur kebahagiaannya, akan terjebak pada kegelisahan eksistensial berkepanjangan.

Post a comment

0 Comments