Menjadi Anak Broken-Home


Buat kalian yang merupakan korban perceraian, mungkin udah sering ngalamin perlakuan ini dari orang luar:
1. Dianggap anak bermasalah
2. Dikasihani (tapi jatuhnya bikin kita merasa diremehin)
3. Diputusin pacar (katanya sihh, keluarganya enggak ngerestuin. Soalnya enggak memenuhi kriteria bibit, bebet, bobot!)
4. Diomongin tetangga.

Kalau kalian stress karena hal itu, jujur, itu sangat wajar banget. Namun, kita enggak bisa kan mengontrol orang harus berlaku gimana?

Jumlah korban perceraian di Indonesia ini banyak banget deh. Apalagi di kota-kota besar. Jadi, seharusnya kondisi ini enggak bikin kita jadi "gumunan" atau gampang heran.

Cuma, namanya mulut orang kan ada-ada aja, ya. Raissa lairan aja banyak yang berkomentar pedas kok. Padahal apa coba salahnya ngelairin.

Kitalah yang harus jadi tameng bagi hati kita. Ibaratnya, kita harus menciptakan vaksin pikiran supaya hal-hal buruk itu enggak menjatuhkan mental.

Terus, apakah kamu harus membenci banget orangtuamu karena perceraian itu?

Selama orangtua masih perhatian, terutama terhadap masa depan, kita enggak boleh terus-menerus menyalahkan orangtua. Oke, mereka yang bikin kita kayak gini, dan harusnya sebelum menikah orangtua itu saling yakin satu sama lain.

Namun, ada beberapa pernikahan yang memang akan lebih baik kalau enggak diteruskan.

Lebih baiknya ini, bukan cuma buat orangtua, tetapi juga buat anak. Ya, tentunya akan sangat menyakitkan kalau anak dan salah satu orangtua kalau hal-hal ini ada dalam pernikahan:

1. Intimidasi dari salah satu anggota keluarga
2. Suami/istri berlaku sangat kasar
3. Suami/istri melakukan hal yang merugikan seperti judi, perzinahan, dll
4. Salah satu pihak udah pergi/enggak bertanggung jawab sama pernikahan itu dan sama anak.
serta hal-hal lain yang sifatnya prinsip.

Terus, bagaimana cara bertahan sebagai anak broken home?

Yang pertama, harus CUEK. Ya, kalau kamu baperan dan gampang terganggu sama omongan orang, hidup kamu enggak akan tenang.

Yang kedua, berusaha sebaik mungkin. Hidupmu yang sekarang mungkin enggak berpihak kepadamu. Nah, buatlah hidup di masa depan berpihak padamu.

Yang ketiga, ubah energi negatif itu menjadi sesuatu yang positif. Misalnya, bikin karya yang terinspirasi dari kegelisahanmu.

Begitulah hidup. Hidup tidak memberikanmu banyak pilihan yang mungkin kamu suka. Yang bisa kamu lakukan adalah memanfaatkan apa yang kamu miliki sebaik mungkin.

Post a Comment

0 Comments