Aku Terkena Gangguan Bipolar dan Menulis Menyelamatkanku


Dilansir dari Alodokter, bipolar adalah sebuah gangguan mental yang membuat penderitanya mengalami perubahan emosi drastis. Penderita bipolar bisa merasakan gejala mania (perasaan sangat senang) dan depresif (perasaan sedih/ terpuruk) dalam kurun waktu tertentu, secara bergantian.

Berikut adalah wawancara kami dengan Mita (bukan nama sebenarnya), tentang bagaimana proses menulis dapat menolongnya untuk mengurangi gejala tersebut.

Tahun 2016, aku divonis oleh psikiater menderita bipolar tipe satu. Oh, maka itu alasan mengapa aku bisa begitu bersemangat dalam waktu tertentu dan kemudian bersedih dalam kurun waktu berikutnya. Maka, saat aku begitu bersemangat, aku bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang cepat.

Ide-ide bermunculan dan bagiku, hidup ini sangat menjanjikan serta dipenuhi berbagai macam hal menarik. Aku begitu ingin merangkul dunia dan menciptakan banyak proyek untuk kemajuan diriku dan dunia.

Namun, dalam periode tersebut, aku juga takut. Karena, nantinya pasti akan datang masa saat aku merasa terpuruk. Dan ketika tiba waktu itu, aku menganggap dunia ini memuakkan. Aku membenci fakta bahwa ada banyak orang yang kesusahan di dunia dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku juga selalu membayangkan kematian di usiaku yang begitu muda.

Keterpurukanku ini terjadi saat aku sedang tak tahu apa yang harus aku lakukan, saat aku terlalu senggang. Pada saat itu, terbesit keinginan untuk mengakhiri hidup diriku sendiri atau orang-orang yang kubenci. Beruntung aku masih bisa menahan diri, walaupun rasanya sangat menyiksa.

Aku tahu, ada obat-obatan yang dapat mengurangi gejala ini. Namun, aku juga menyadari bahwa aku tak bisa terus-menerus bergantung pada obat-obatan.

Menulis, Menyelamatkan Hidupku
Aku memang sudah suka menulis sejak usia sekolah. Namun, aku hanya berkutat pada penulisan novel saja dan terobsesi untuk sekadar menjadi novelis. Aku merasa rapuh saat naskahku ditolak hanya karena bagus, tetapi tidak menjual.

Aku pun merasa marah. Tak ada tujuan hidup, awalnya. Mengapa dunia ini menolak idealisme tinggi? Mengapa aku, dengan gaya bahasa tinggi dalam tulisan, ditolak cuma karena masalah pasar?

Pada saat itu, beruntunglah aku rajin mencari informasi di Internet. Aku banyak berselancar karena aku ingin mencari dunia lain, dunia yang lebih baik. Dan untungnya, aku mendapatkan banyak informasi positif.

Aku mengetahui bahwa ada banyak cara menulis dan banyak cara agar tulisanku dibaca orang. Aku jadi paham, bahwa menulis bukan hanya tentang membust naskah di komputer dan mengirimkannya ke penerbit besar.

Kemudian, aku membuat blog. Banyak kutuangkan tulisanku di saja. Tentang orangtua yang berpisah. Tentang kekasih yang tidak setia. Tentang kesulitanku untuk memaafkan teman.

Tahukah kamu? Lambat laun, tulisanku mulai banyak dibaca orang. Ini menjadi keuntungan buatku karena, aku bisa berkenalan dengan banyak orang yang memiliki masalah serupa.

Blog-ku tersebut juga menjadi pintu gerbang bagiku untuk mendapatkan kesempatan menulis berbagai artikel di beragam tempat, serta pada akhirnya, menerbitkan buku.

Jangan Terpaku Hanya Pada Satu Hal
Kamu tahu? Semakin banyaknya pekerjaan penulisan yang kupegang, maka semakin aku tak punya waktu untuk memikirkan kesedihanku. Ketika aku terpuruk pun, aku bisa menuliskan kesedihanku dan bisa mengubahnya jadi energi untuk menyelesaikan tulisanku, fiksi mau pun non-fiksi.

Dulu, aku begitu terpaku pada masalahku dan pada satu solusi: menulis novel. Nyatanya, jalanku tak langsung menuju ke sana. Melalui blog, aku bisa mendapatkan banyak hal, mulai dari teman, pekerjaan, sampai kesempatan untuk menerbitkan novel.

Aku tak menyarankan semua orang yang terkena gangguan bipolar untuk menulis sepertiku. Kalau kalian bisa menulis, maka menulislah. Tahukah kalau dengan menulis, berarti kalian membuang beban dari dalam diri? Namun bila kalian tak bisa menulis dan bisa menggambar, maka menggambarlah. Bila kalian bisa memasak, memasaklah.

Buatlah karya-karya terbaik dari kegelisahan kalian. Percayalah, dengan mulai memperbaiki diri, maka kalian akan mulai memahami bahwa di dunia ini, kalian berarti.

Post a Comment

0 Comments