Bala-Bala Idola



Pernah mengidolakan seseorang? Kalau pernah, sebaiknya kamu pastikan bahwa kamu tidak mengidolakannya dengan begitu berlebihan lalu naik kasta menjadi “bala-bala”.

Ini sudah kesekian kalinya bagi saya menyaksikkan cerita tentang sekelompok orang yang mati-matian membela idolanya (atau sesuatu yang tidak perlu dibela, sebenarnya). Masih ingat waktu idola Nagita Slavina mati-matian menghardik Ayu Ting Ting? Padahal, kalau dipikir, Nagita tidak pernah sekali pun terlihat bermasalah dengan Ayu Ting Ting. Hanya rumor yang berdengung “katanya, katanya, katanya…”.

Belum lama ini, ada lagi sekelompok orang yang memaki-maki beberapa beauty vloggers hanya karena review mereka atas sebuah palet wajah keluaran selebgram ternama tak sesuai dengan ekspektasi penggemarnya. Harus diakui selebgram ini memang menyenangkan. Dia humoris, kaya raya, cerdas, dan punya selera make-up yang baik.

Namun ketika dia sudah mengeluarkan produk, itu artinya dia harus sudah siap dikritik. Nah, siap atau tidaknya selebgram itu, saya tidak tahu. Yang jelas, banyak penggemarnya yang tidak siap.

Mereka sibuk mengkritik bahkan memaki banyak orang yang kurang suka dengan palet tersebut. Bahkan, mereka memberi tahu seorang MUA sekaligus editor media kecantikan ternama bahwa sebelum melakukan review, ada baiknya melihat tutorial dari idolanya tersebut. Padahal, yang namanya make-up, tentu saja tergantung dari pemakainya. Tak bergantung pada tutorial. Apalagi bila penggunanya make-up artist profesional.

Saya tidak tahu apa yang mereka harapkan dari idolanya. Apakah dengan membelanya mati-matian maka dia akan mendapatkan golden ticket sebagai sahabat terbaru sang idola? Mendapatkan annual pass untuk masuk ke rumahnya? Atau bagaimana?

Pada dasarnya, sejak kecil, sebagai manusia kita akan melewati fase identifikasi. Dalam fase tersebut, kita pun akan merasakan keinginan kuat untuk meniru seseorang. Dari sinilah konsep idola terbentuk.

Namun, banyak orang yang kemudian terhanyut dan menuhankan idola mereka. Idola, yang dianggap sebagai cerminan diri, akan dibela mati-matian. Padahal, kamu ya kamu. Idolamu ya idolamu. Keterikatan kuat pada sosok idola menunjukkan kalau kamu belum menemukan identitas dirimu sendiri.

Lagipula, bisa kamu bayangkan betapa mirisnya hal ini? Kamu sibuk membela mati-matian idolamu, memaki-maki orang lain yang tidak setuju dengannya, sementara idolamu tengah asyik berjalan-jalan dan mungkin tidak mengenalmu? Terbayangkah konyolnya?

Post a Comment

0 Comments