Ini Semua Tentang Para Korban, Seharusnya






 Semalam saya melihat unggahan beberapa teman yang menyatakan bahwa terorisme tidak mengenal agama. Tidak hanya itu saja, saya juga melihat unggahan teman lain yang mengungkapkan kekhawatirannya untuk beribadah, karena takut adanya pembalasan.

Kedua hal ini jelas ada hubungannya dengan penembakkan brutal di Masjid di kawasan ChristChurch, New Zealand, beberapa waktu lalu. Oknum teman yang saya sebutkan pertama, yang notabene beragama Muslim menganggap kalau dengan adanya teror ini, maka sudah jelas terlihat bahwa terorisme tidak hanya terkait agama Islam. Teror bisa berasal dari mana saja. Sementara itu, oknum kedua, yang notabene beragama selain Muslim, menganggap kalau dengan terjadinya teror penembakkan ini, maka bisa saja ada oknum yang berniat untuk membalaskan dendam di negara Indonesia.

Ini Soal Korban, Bukan Siapa yang Pantas Disebut Teroris
Saya tahu kedua golongan teman saya itu sebenarnya turut berduka cita terhadap mereka yang meninggal dunia karena kekejaman biadab para fanatik itu. Namun, saya menyayangkan mengapa kok mereka harus menyebarkan rasa duka cita dengan cara demikian.

Kita bahas teman golongan pertama. Mengapa tragedi Christchurch itu seolah menjadi momen bagi mereka untuk membuktikkan bahwa agama Islam bukanlah agama terorisme? Memang bukan, jelas. Namun bukankah hal itu tidak perlu dilebih-lebihkan? Yang kita bicarakan ini nyawa orang, lho. Bukan siapa yang seharusnya dilabeli teroris.


Saya jadi berpikir, sebenarnya mereka itu kasian tidak sih, sama para korban yang tak bersalah? Yang datang ke masjid untuk niat baik Salat Jumat, tetapi harus mengalami hal kejam semacam ini dari orang-orang tak berotak? Mengapa yang terus menerus mereka koar-koarkan adalah tentang siapa yang bukan teroris atau siapa yang suci?

Ini juga berlaku untuk teman golongan kedua. Bukankah terlalu gegabah dan tak berperasaan, saat mengekspresikan ketakutan di media sosial akan adanya balasan? Bukannya ini malah menimbulkan hawa panas antarumat beragama? Mengapa mereka membahas tentang kekhawatiran adanya balasan dan tidak berfokus pada korban?

Kita Punya Hak Untuk Berperasaan, Tapi..
Sebagai manusia, kita punya hak untuk berperasaan dengan cara apa saja. Namun bukan berarti semua perasaan itu bisa diungkapkan di media sosial. Konsepnya kurang lebih sama seperti ini: saat kamu buang air, kamu tentunya melakukannya secara sembunyi-sembunyi bukan di depan umum apalagi diunggah di media sosial.

Ketahui perasaanmu dan apa yang sedang kamu pikirkan. Kemudian, renungkan: apakah yang kamu pikirkan itu sejatinya pantas diumbar di publik? Adakah orang yang sakit hati? Ataukah apa yang kamu pikirkan itu bisa memberikan dampak psikologis yang buruk?

Kita berhak marah. Kita berhak takut. Namun, sampaikan apa yang memang membuat hati orang lain menjadi lebih tentram. Sampaikan bela sungkawa dengan cara yang lebih berempati.


Fokuslah pada diri korban. Fokus pada mereka yang datang ke masjid dengan niat baik, tanpa ada prasangka apa pun. Bagaimana bila mereka adalah saudaramu? Masihkah kamu menginginkan pembuktian siapa yang teroris, siapa yang bukan, dan masihkah kamu mewaspadai pembalasan?

Post a Comment

0 Comments