Ketika Orang Terpelajar Berubah Menjadi Bocah Ingusan di Hadapan Pemilu


Indonesia memang sedang berisik. Sangat berisik. Apalagi masalahnya kalau bukan Pemilu yang akan berlangsung bulan depan ini.

Banyak orang yang berapi-api untuk membela pasangan calon pilihannya sampai titik darah penghabisan. Kalau yang berlaku begitu si buzzer sih tidak masalah, mereka punya masa depan cerah. Lain halnya kalau kalian yang notabene rakyat biasa ikut berkoar-koar, bukankah iku kegiatan yang membuang-buang waktu?

Sudah hampir setahun ini, keributan yang ditimbulkan kubu militan begitu kentara di Twitter. Berbondong-bondong kalimat cemooh memenuhi tanda pagar yang sedang populer. Menjijikkan!

Hal-hal semacam ini selalu memuncak saat acara omong howos debat tiba. Mereka, yang mayoritas orang terpelajar, mendadak berubah menjadi bocah ingusan. Kata-kata seperti Kecebong ... Kampret ... Ah, childish betul mereka itu.

Alih-alih berargumen dan mengkritisi, mereka lebih suka perang cuitan dan bertengkar di kolom komentar.

Sesungguhnya, rakyat sudah muak. Kami sudah lelah dengan kicauan bodoh di media sosial.

Post a Comment

0 Comments