Intimidasi dalam Wawancara Kerja



Pada saat memasuki gedung tinggi itu, aku mulai teringat tentang keputusan untuk bekerja lepas, dan tidak pernah menyesalinya lagi.

Aku lulus kuliah pada tahun 2013. Sebelumnya, aku sudah mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan, baik melalui surel atau pun melalui jasa pengiriman.

Setelah lulus kuliah, aku dipanggil ke berbagai perusahaan. Posisi-posisi yang kulamar kurang lebih sama: sesuatu yang sebenarnya cukup kukuasai. Namun, itu tak membuat banyak pewawancara kerja berhenti mengintimidasiku. Malah, mereka seolah menikmatinya.

Intimidasi ini bukan dalam bentuk ujian kemampuan, tetapi penghinaan terhadap hal lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan yang akan kulamar dan juga kemampuanku. Misalnya begini: Lho, nilai mata kuliahmu aja cuma segini, gimana bisa kerja bener? Atau, di sini keras banget lho. Kamu harus mau lembur tiap hari, memangnya bisa? Kamu kan belum pernah kerja!

Ini masih lebih baik, karena jujur beberapa kali aku mendapati pertanyaan pribadi, seperti misalnya, pertanyaan tentang pacar dan juga almarhum ayahku. Menurutku, menanyakan pekerjaan orangtua tidak ada korelasinya dengan apa yang aku kerjakan, apalagi menanyakan hubungan dengan pacar. Lalu, mereka juga bertanya apakah hubunganku dengan pacar tidak akan mengganggu pekerjaanku. Hmm, memangnya aku anak kemarin sore, anak SMA yang terlalu larut pacaran sampai lupa belajar untuk UN?

Yang lebih parah lagi, terkait almarhum ayahku, mereka menanyakan kematiannya secara rinci. Itu sesuatu yang tidak mau kubahas sama sekali, lho.

Tidak semua perusahaan begitu, kok. Beberapa perusahaan masih sangat etis, profesional, dan sopan. Namun, bayangan tentang banyak perusahaan yang mengintimidasi dan juga merendahkan lewat kata-kata, itu sangat menyebalkan.

Perundungan Bukan Latihan
Ada banyak orang yang menyatakan bahwa ospek, perundungan, gojlokan, atau apa pun itu, adalah sesuatu yang bertujuan untuk memperkuat anak-anak baru. Benarkah? Nyatanya, itu hanyalah membuat anak-anak baru itu depresi, atau bila tidak, balas dendam terhadap orang lain.

Nyatanya lagi, intimidasi di dunia sekolah, kampus, atau kerja hanyalah pelampiasan ego dari orang-orang tertentu. Mereka merasa puas karena berhasil mengintimidasi orang yang tak tahu apa-apa. Mereka merasa punya relasi kuasa. Ya, relasi kuasa itu ada. Salah satu teori relasi kuasa yang bisa kamu cari dan dalami adalah punya Michel Foucault, seorang filsuf Prancis.

Kamu tahu? Tes wawancara kerja, menurutku tidak boleh merendahkan para kandidat. Apalagi, bertujuan  untuk mengorek kehidupan pribadi mereka. Ini menyebalkan. Belum diterima saja, para senior dan users sudah berlagak. Bagaimana kalau nanti diterima?

Oh ya, aku juga pernah dengar cerita seorang teman yang hamil dan sedang melakukan wawancara untuk posisi pekerja lepas. Entah mengapa, pewawancara menawarkan posisi sebagai pekerja tetap dan bertanya bahwa mengapa kehamilan harus jadi halangan untuk bekerja penuh waktu? Banyak perempuan yang bekerja dan nitipin anaknya, nyatanya bisa tuh.

Ya, memang bisa. Namun bukankah setiap orang memiliki pilihannya masing-masing dan selama hal itu tidak mengganggu kepentingan orang lain, tidak masalah?

Bukan Tentang Fisik, Tetapi Juga Tentang Psikis
Bullying alias perundungan tidak selalu tentang pemukulan dan lain sebagainya. Hal tersebut bisa hadir secara verbal, bahkan secara psikis. Saat kamu memaki-maki orang yang tak ada hubungannya denganmu di media sosial, cuma karena orang itu pakai baju seksi misalnya, kamu pun sudah melakukan perundungan.

Saat kamu berkata pada seseorang hal-hal semacam “Eh, orang kayak kamu bisa apa? Anak kecil nggak usah sok tau!”. Itu juga sudah merupakan suatu perundungan.

Kamu tidak tahu dampak apa yang akan timbul dari perilakumu. Kamu juga tidak tahu bahwa alih-alih menguatkan, orang yang kamu katai patah semangat hingga bunuh diri.

Menurutku, kita mesti menghilangkan budaya “digojlok biar kuat”. Aku sudah banyak menemukan hal semacam ini dari zaman kuliah. Ada semacam ospek yang bukannya mengajarkan mahasiswa-mahasiswa baru hal berguna, tetapi justru jadi ajang untuk “mengerjai” mahasiswa baru. Memarai mereka. Melakukan permainan-permainan yang menjijikkan atau mengintimidasi.

Dan sama seperti proses wawancara kerja yang merundung itu, para senior berdalih bahwa hal tersebut merupakan budaya untuk memperkuat mental mahasiswa dan mahasiswi.

Jadi, sampai kapan kita mau sok kuasa padahal yang kita rasakan hanya iri dan takut tidak dihormati?

Post a Comment

0 Comments