Aruniku Sayang

Malam ini, seperti malam biasanya. Aku (Aruni) harus sendiri di rumah menunggu ibu yang tak kunjung pulang kerja yang entah kerja apa. Yang pasti, aku sering ketiduran menanti kepulangannya.

Namun tak apa, ibuku adalah seseorang yang sangat menyayangiku. Bagaimana tidak? Ketika bangun tidur, aku akan selalu mendapati hidangan lezat masakan ibu di meja makan. Ya, ibu selalu memasak sayur daging sapi setiap hari, selalu. Meskipun aku jarang melihat ibu berbicara dan tersenyum semenjak kepergian ayah, tetapi kasih sayangnya, aku rasakan hingga sekarang, saat aku sudah menginjak bangku SMP.
Aku memang tak punya ayah. Ayahku meninggal beberapa tahun lalu. Sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini. Namun, demi pembaca, tak apa kubagikan cerita pilu kala itu.
***
Saat itu, aku masih berumur 7 tahun. Aku pulang dari rumah temanku, Sifa. Aku senang mendengar ayah pulang lebih siang dari biasanya. Maka, aku bergegas pulang untuk menagih mainan yang dijanjikannya.
Namun, saat aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah, aku melihat bercak darah menempel di gagang pintu. Entah apa yang terjadi, aku sesungguhnya tak mengerti. Aku bergegas mencari ayah. Kucari di kamar, di ruang makan, di kamarku, tidak ada. Ayah tidak ada di dalam rumah.

Lalu, aku kembali mencarinya. Kali ini aku menuju halaman belakang. Syukurlah, ayah di sana. Ayah sedang duduk di kursi goyang menghadap taman. Aku senang melihatnya. Lalu aku berlari, sambil meneriaki ayah, kupeluk dia dari belakang.

Aku merengek senang. Kucium bau anyir pekat serupa aroma yang sering kucium pada saat prosesi penyembelihan hewan kurban. Namun, ah, aku tidak terlalu memikirkan hal itu saat itu. “Ayahhh mana mainankuuu, Aruni nggak sabaaar pengin lihat.” Kupeluk punggung ayah dengan erat. Kurasakan hangat tubuhnya seperti biasa. Aku jadi semakin rindu. Sudah lama aku tidak memeluk ayah.

Namun, tanganku entah kenapa terasa basah. Ada semacam cairan yang mengalir di pergelangan tanganku, tetapi tak bisa kulihat karena pandanganku terhalang kepala ayah.
Perlahan, aku melepas pelukanku. Kulihat tanganku yang ternyata, sudah penuh oleh darah. Ayahku berdarah. Benar-benar penuh oleh darah.Aku bergegas melihat wajahnya. Kulangkahkan kakiku agar kami berhadapan.
Wajahnya berlumuran air merah. Matanya tercongkel sebelah. Mengucurkan air mata yang tak lagi bening. Aku bergidik ngeri, tetapi masih terpaku.

Kuarahkan tanganku untuk menyentuh pipinya. Aku menutup mata. Kurasakan sosok yang selama ini begitu ramah dan penuh cinta. Aku gemetar. Apa ini ayahku?

Pandanganku beralih ke bawah. Ya Tuhan. Di mana kedua kaki ayah? Siapa yang berani memotong kaki ayah? .
.
Kulihat tulang pahanya menyembul. Hanya tulang. Di mana anggota tubuh lainnya? .
.
Aku menangis ketakutan. Berlari mencari ibu. .
.
“Ibuuuuu…. Ibu di manaaaaa…. Ayah, Aa yaahh jadi monster Bu…. Ibu di mana????” .
.
Aku berteriak ke sana ke mari. Dan akhirnya, ibu kembali. Dengan wajah yang tak kalah kaget ibu menangis. Ibu terlihat amat terpukul.

Sampai saat ini, kematian ayah masih menjadi misteri. Namun orang-orang bilang, ini ulah seorang penjahat yang punya dendam pada ayah. Namun siapa?Kenangan itu, begitu perih untuk diingat. Bahkan sampai saat ini, aku masih sering dibuat gemetar oleh ingatan masa itu. Kematian ayah teramat menghunus dadaku, rasanya seperti dikuliti berkali-kali. Sosok ayah selalu kubawa dalam mimpi, setiap malam, tanpa ampun menghukumku dari mimpi-mimpi yang seharusnya indah jadi mengerikan. .
.
"Ibuuuuuuu ayaaaaaah."
.
.
Aku terbangun dari tidurku dengan keringat yang mengucur. Lagi dan lagi, aku selalu mimpi buruk. Sayangnya, ibu tak pernah mengetahui ketika aku terbangun tengah malam. Karena, ya, ibu pasti belum pulang.

Kutatap langit kamar dengan nanar. Air mataku deras mengalir. Aku rindu ayaahh.

Aku mendengar suara langkah kaki ibu yang menyeret sesuatu. Cukup keras sehingga terdengar sampai ke kamarku. Suara itu terdengar menjauh, menuju sebuah ruangan yang selama ini kukenal sebagai gudang. Mendengar itu, aku terbangun. Mencoba mengobati penasaran. .
.
.
"Halo, baik Pak. 3 jantung sudah diambil oleh anak buah Bapak. Baik, terima kasih." Suara ibu saat sedang bertelepon dengan seseorang. .

Entah kenapa, percakapan itu bagiku tidak masuk akal. Apa maksudnya jantung? Dan siapa bapak itu? .
.
.
Kuberanikan kakiku untuk melangkah maju. Melihat lebih jelas apa yang sedang dilakukan ibu.

Aku berhenti tepat di dekat lemari penyimpan makanan. Terdiam. Pikiranku berubah jadi kosong. Ruangan yang kukira adalah gudang, ternyata penuh oleh perabotan menyeramkan. Sungguh, aku tak pernah melihat alat-alat aneh ini kecuali di sinema Rumah Dara dan The Texas Chainsaw Massacre. .
.
Saat aku melihat sepotong kepala manusia ada di dekat piring, aku juga melihat seorang lelaki berperawakan tinggi dengan baju yang tak kalah lusuh. Kedua tangannya memegang scapel blade dan surgical scissores. Ia terlihat akrab dengan ibu. Namun sayang, lampu yang redup bercampur dengan mata yang berair membuat pandanganku tak lagi jelas, begitu samar.

Baunya amat sangat anyir. Namun, keinginanku untuk muntah menjadi urung saat aku melihat ibu mengetahui keberadaanku.Ibu menghadapku, dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa aku pahami. Rambutnya sedikit berantakan. Tangannya menggenggam kogel tang berlumuran darah manusia. Bajunya lusuh oleh bercak-bercak yang, entahlah, aku tak berani meneruskannya.

Ibu melangkah menghampiriku. Sangat pelan. Sesekali tersenyum. Sesekali juga wajahnya berubah masam.
.
. "Aruniku saayaaang."
.
.
Aku begitu takut. Aku sangat takut sekali. Jantungku bergemuruh tiada ampun. Gemetar tak terkira. Kakiku, perlahan melangkahkan diri ke belakang. Pelan, terus ke belakang.

Bersama basahnya bajuku akibat keringat, kakiku memelankan ritmenya. Seperti ingin menyerah, tak ada lagi kekuatan untukku berlari. Ibuku dan aku, hampir tak berjarak. Tangan kanannya mengusap mataku, sedangkan tangan kirinya, mengangkat pisau bedah yang sedari tadi digenggam olehnya. .
.
Sembari melantunkan doa dalam hati, kupejamkan mataku. Kuputar kaset-kaset kenangan masa lalu. .
.
"Ayaaah .... Akankah kita bersama setelah ini?" .
.
.
TAMAT

Post a Comment

0 Comments