Cerpelai




(#Difiksikan adalah segmen cerita fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Sebuah analogi, bisa jadi. Kisah nyata yang mana? Bisa saja yang hangat diperbincangkan, atau mungkin, kisah nyata dari mana saja. Bukankah dalam fiksi, kenyataan bisa didaur-ulang dan diubah?)

Semua makhluk, bahkan yang paling bodoh sekalipun juga tentu tahu bahwa bila dibandingkan buaya, harimau, serigala, dan juga singa, cerpelai adalah hewan yang tidak buas-buas amat.

Jadi, ketika cerpelai kemudian berkata bahwa dia akan menjadi salah satu kandidat kepala pengamanan hutan, maka banyak orang yang tertawa. Tentu keempat hewan buas sebelumnya juga berada di antaranya.

Namun, keberanian cerpelai ini rupanya menarik perhatian banyak warga hutan, terutama penyampai kabar seperti burung dan simpanse. Cerpelai pun jadi tenar.

Masalahnya, bagaimana bisa hutan diamankan oleh seekor cerpelai? Begini, cerpelai itu memang sedikit galak dan punya sifat predator. Namun cerpelai tidaklah segarang harimau atau punya kulit setebal buaya. Yang bisa dibanggakan dari cerpelai adalah kegesitannya dan sifatnya yang tidak bisa diam.

Lama-kelamaan, orang-orang pun kagum dengan cerpelai. Bahkan, beberapa kaum buaya dan singa pun juga. Para singa betina berkata begini: sudah muak aku dengan kelakuan singa-singa jantan di hutan ini. Mereka paling rajin memamerkan surai dan auman. Namun, paling malas kalau disuruh mencari makan. Mungkin kalau para singa betina bisa menikahi kelompok cerpelai, mereka akan melakukannya.

Pada akhirnya, hari pemilihan kepala pengamanan hutan pun tiba. Siapa pemenangnya? Sudah jelas jawabannya adalah, cerpelai. Ini suatu hal yang fenomenal. Banyak orang yang optimistis bahwa kecerdasan cerpelai akan membuatnya mampu mengemban tugas ini. Namun, banyak juga warga hutan bermulut pedas yang bilang begini: kecerdasan dan kegesitanmu itu tidak bisa dipakai kalau kamu sedang tidur.

Suara-suara pedas itu tentunya juga berasal dari oknum buaya, serigala, harimau, dan juga singa yang bertarung melawan cerpelai. Cerpelai, yang awalnya percaya diri dan juga tidak ambil pusing dengan omongan hewan, kini menjadi sosok yang paranoid.

Cerpelai pun ketakutan. Bagaimana bila saat tidur, dia diserang? Bagaimana kalau lawan-lawannya bersekongkol membunuhnya? Cerpelai belum mau mati di waktu dekat.

Bersama kawan-kawanya, Cerpelai akhirnya menyusun rencana: bagaimana bila kita buat rumor ancaman pembobolan bahan makanan oleh para hewan buas itu? Strategi dilaksanakan, dan ya, banyak orang yang percaya.

Cerpelai tidak merasa bersalah. Dia tidak memfitnah, kok. Memang berdasarkan kabar yang didapatkan dari hewan-hewan kepercayaan cerpelai, para hewan-hewan buas itu mau menyerang lumbung makanan supaya cerpelai dianggap tidak becus.

Sementara itu, para hewan tertuduh ini ketakutan sendiri. Apakah cerpelai bisa membaca pikiran? Mereka pun merasa bahwa sepertinya, tidak ada gunanya menyerang cerpelai.

Pada akhirnya, mereka berempat harus rela mundur dari lampu sorot hutan dan hidup di pinggiran, tanpa tahta. Bagaimana dengan cerpelai? Cerpelai mendapatkan kekuasaan. Namun, masih sama seperti sebelumnya, Cerpelai hidup dalam ketakutan. Bagaimana bila dia diserang tiba-tiba? Bagaimana jika dibunuh?

Pada akhirnya, tidak ada yang menang. Buaya, harimau, serigala, dan singa, tak lagi mendapatkan kekuasaan. Namun mereka berpikir bahwa sungguh tenang hidup jadinya. Sementara itu, cerpelai diagung-agungkan, mendapatkan fasilitas, tetapi hidupnya tak tenang. Tak ada pemenang dalam perebutan kekuasaan.

Post a Comment

0 Comments