Kisah Belalang dan Semut



(#Difiksikan adalah segmen cerita fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Sebuah analogi, bisa jadi. Kisah nyata yang mana? Bisa saja yang hangat diperbincangkan, atau mungkin, kisah nyata dari mana saja. Bukankah dalam fiksi, kenyataan bisa didaur-ulang dan diubah?)

Kamu pasti pernah mendengar dongeng tentang belalang pemalas dan semut yang rajin. Dan kamu sudah tahu akhir cerita itu. Namun kali ini, hal itu sedikit berbeda.

Pada sebuah musim panas yang cerah, hiduplah seekor semut dan seekor belalang di sebuah hutan nan asri. Hutan itu begitu subur, banyak hal tumbuh di sana secara sukarela, menghidupi para penghuninya. Itulah alasan mengapa ada beberapa hewan yang pemalas di sana, seperti belalang contohnya.

Sepanjang musim panas, pekerjaan belalang hanyalah tidur dan menikmati sinar matahari.

Lain halnya dengan belalang, semut adalah hewan yang rajin. Melihat dari waktu-waktu sebelumnya, semut tahu bahwa musim panas tidak akan berlangsung selamanya.
Belalang mengolok-olok semut: "Percuma hidup di hutan yang indah kalau kamu tidak bisa menikmatinya." "Kamu sudah tahu 'kan, kalau ini buat musim dingin?", balas Semut "Simpanan untuk musim dingin?", Belalang terkekeh, "Kamu tentu sudah tahu --berbeda dengan cerita belalang dan semut pada umumnya-- pemalas di hutan ini akan selalu punya kesempatan di segala musim. Tentu, kamu harus jadi pemalas yang pintar." Semut tak membalas. Dia tahu apa maksud belalang.



 ****
Musim dingin datang, menyulap hutan jadi hampir serupa gurun es. Tumbuhan terkubur dingin salju, bahan makanan tak bisa banyak dipetik.

Di dalam sarangnya, semut menikmati hangat selimut dan makanan-makanan yang dia buat dari hasil kerja kerasnya selama musim panas. Sebetulnya, paling enak tidur di musim dingin gila seperti ini. Namun, semut penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Ia pun membuka jendelanya.

Belalang duduk menggigil di sebuah batu. Di depannya, ada boks bertuliskan "Belalang sakit. Butuh bantuan makanan dan tumbuhan obat", yang dipenuhi dengan berbagai macam persediaan makanan dan obat lezat.

Semut menutup tirai jendelanya. Dia tahu bahwa Belalang akan melakukan hal tersebut. Setiap tahun. Penduduk hutan ini, entah naif, entah bodoh, mudah saja memberikan bantuan tak sesuai tempatnya.
Ia menghela napas panjang. Teringat temannya, Ulat Bulu, yang mati tertimbun salju dan tak banyak bantuan datang ke keluarganya. "Andai semua makhluk punya bakat mengemis", gumamnya.

Post a Comment

0 Comments