Mido Sang Pekerja Keras








(#Difiksikan adalah segmen cerita fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Sebuah analogi, bisa jadi. Kisah nyata yang mana? Bisa saja yang hangat diperbincangkan, atau mungkin, kisah nyata dari mana saja. Bukankah dalam fiksi, kenyataan bisa didaur-ulang dan diubah?)

Tersebutlah seorang pemuda bernama Mido yang terkenal punya tangan dingin saat membuat acara. Maka, kepadanya kampungnya mengandalkan harapan untuk membuat acara tujuh belasan. Mido lalu merencanakan acara-acara unik seperti lomba PUBG untuk pemuda sampai dengan lomba menyanyi di Youtube. Ini sangat futuristik, lagipula, kampungnya jadi terkenal serta tak perlu keluar banyak duit untuk menyewa panggung menyanyi.

Nama Mido jadi terkenal di kota, kemudian, walikota memintanya untuk merencanakan acara pesta ulang tahun kota. Ini tentu sebuah kebanggaan bagi Mido. Pasalnya, anak kampung mana yang bisa merasakan keistimewaan ini? Namanya tersohor sampai kota.

Awalnya, Mido pikir, mengurus acara kota akan sama menyenangkannya dengan acara kampung. Nyatanya, ada banyak kepentingan di sana. Walikota pun jadi menyebalkan karena punya selera buruk terkait acara. Mido merasa menemui jalan buntu. Acara ini tak terlalu menyenangkan untuk dibuat.

Beruntungnya (setidaknya Mido merasa begitu), seorang utusan pengusaha terkaya di provinsi menemui Mido. Dia bilang begini "Masalah kota ini nggak perlu dipikirkan. Sayang banget kemampuanmu. Mau nggak, bergabung sama saya, mengurus acara-acara lain yang lebih keren, bahkan sampai tingkat nasional?" Usut punya usut, pengusaha ini kagum dengan ide lomba dan acara lain yang disiarkan di Youtube oleh Mido. Maka, tanpa ambil pusing, Mido tinggalkan proyek kota itu. Bekerja dengan walikota kolot rupanya menyebalkan.

Satu dua hari bekerja dengan si pengusaha, sangat menyenangkan. Fasilitas kelas satu. Makanan lezat. Kebanggaan premium. Namun, lama kelamaan, lelah juga dengan tuntutan konglomerat yang satu ini. Lama-kelamaan juga, Mido merasa muak merencanakan acara-acara. Tahu alasannya apa? Para klien terlalu banyak minta. Ini jelas berbeda dengan warga kampung yang tidak punya banyak kepentingan.

Sambil tiduran di kasur barunya yang  sangat empuk, Mido mengusap wajahnya . "Aku kira kasur bulu angsa enak, ternyata enggak. Haruskah aku ganti kasur air?" Tidak ada yang menjawab.

"Atau mungkin, bukan kasur yang harusnya diganti? Atau tak perlu ada yang diganti untuk bisa membuat hati bahagia?"

Post a Comment

0 Comments