Kamu Kaku, Itu Sebabnya Aku Cinta Kamu



Hai, apa kabarmu?

Kalau kamu tanya kabarku, maka jawabanku masih sama dengan aku yang dulu-dulu itu. Ya, aku masih berkutat dengan duniaku yang katamu halu, setumpuk rindu yang mendayu-dayu, dan kata-kata yang berserakan di segala penjuru. Kalau aku tanya kabarmu, sudah pasti jawabannya adalah, kamu masih fokus sama pekerjaanmu yang kaku, tepat waktu, dan terjadwal selalu. Begitu kan, kamu dari dulu?

Kita ini berbeda, tahu? Kamu dipenuhi dengan aturan-aturan khusus dan buku-buku baku. Pusing aku kalau membayangkan itu. Bisa-bisa setiap hari aku harus minum Paracetamol dan turunannya yang bikin tenggorokan kelu. Tidak seru.

Kalau buat kamu, apa yang aku kerjakan ini terlalu dipengaruhi rasa galau. Halu, halu, halu. Apa gunanya sih berkutat dengan imajinasi dalam kalbu? Apa pentingnya sih kontribusi ini buat bangsaku dan bangsamu?

Dari dulu, kalau aku bicara soal ide-ideku, keinginanku menulis buku dan imajinasi yang sepanjang pulau, kamu akan selalu bilang jika aku buang waktu. Mending kamu belajar, cari ilmu. Biar lulus tepat waktu. Dapat IPK tertinggi di fakultasmu.

Oh ya, bicara soal fakultas, kamu merasa kalau fakultasku itu penuh hura-hura, tidak perlu. Apa yang kamu dapat dari belajar di situ? Bikin kamus? Baca puisi di muka umum? Mau aku jelaskan ribuan kali pun, kamu tidak akan tahu. Ya tentu saja, kita ini beda, paham kamu?

Aku sih, tahu, apa pentingnya fakultas kamu. Cuma, aku heran kenapa kamu tidak kunjung gila mempelajari itu. Katamu itu seru. Kataku, itu bikin otakku kacau.

Kita ini tidak nyambung. Jauh, sejauh Jakarta Timbuktu. Aku tak paham duniamu. Kamu mual kalau masuk ke duniaku. Namun kenapa ya aku cinta kamu? Kenapa ya mungkin kamu juga cinta aku?

Aku tidak tahu jawaban pastinya dari dulu. Kalau aku tanya ke kamu, ya kamu akan jawab pakai rumus. Nggak lucu. Cuma, kalau kamu mau tanya aku, ya akan jawab aku, kalau kamu dan aku itu saling melengkapi, seperti celana dan baju.

Dari kamu, aku belajar kalau hidup harus teratur. Nah, dari aku, kupikir kamu bisa belajar kalau hidup itu kadang bisa lucu, kadang buat ngilu. Kamu belajar bahwa dunia ini bisa jadi seajaib dunia Doctor Strange dan Ancient One, sang guru. Iya, seperti cerita itu. Dokter yang kaku, dipenuhi rumus, tapi kemudian sadar bahwa ada dunia gaib di balik itu.

Aduh, seru sekali impian bahwa kita berdua bisa bersatu. Silau hatiku, sayangku. Rasanya kalau kita bersama, dunia bisa kita pangku. Lalu, kita peluk sesuka hati, sepanjang waktu. Kita jadi penguasa lho, mau?

Sayangnya sih, kamu tidak mau sinting bersamaku. Dan aku kadang merasa, obrolan kita berdua tidak bisa jadi sejalur. Aku dan kamu sama-sama semangat berkicau. Eh, obrolan kamu arahnya ke sana, aku ke situ. Aku tanya kamu soal mitologi-mitologi dan hubungannya sama karakteristik masyarakat di masa itu, eh kamu malah bicara soal penelitian asteroid-asteroid baru. Atau apalah itu.

Ya, bukannya aku tak mau mempelajari ilmumu. Cuma, setiap kali aku mau belajar, kamu selalu memaksaku jadi kaku. Ya aku tahu, otakku mungkin tidak sefungsional kamu. Kalau satu aku mati, orang sedunia masih bisa makan dan minum. Kalau kamu mati, mungkin dunia ini kembali lagi ke zaman batu. Soalnya, kamu itu penemu. Kamu berpikir di ruang yang jalurnya lurus. Lha jalur pikiranku? Ke mana-mana tidak tentu.

Kalau tanpa adanya kesusastraan dan filsafat, manusia cuma hewan yang pintar, begitu kata Pramoedya Ananta Toer.  Kalau tidak ada aku, kamu cuma jadi, ehm, kerbau, gitu? Sayangnya sih, kamu pikir kalau kita bersama, kesempurnaan itu akan membunuhmu. Membunuh kita juga, katamu. Kita berdua nanti bisa sama-sama dungu karena tidak nyambung. Ya sudah, kita berakhir tanpa ada lagi temu.

Cuma, akhir dari cerita ini tidak akan membuat cintaku hilang kepadamu. Sampai sekarang aku masih suka rindu. Keberadaanmu membuat hatiku berkilau dan sampai sekarang belum redup.

Kadang sih, memang sakit kalau mengingat kamu. Apalagi, aku masih jomlo alias sendiri dan kamu mau menikah akhir tahun. Wah, hitam pastinya tahun baruku. Kembang api sudah langsung jadi abu.

Pesanku padamu, ingatlah aku selalu. Kalau pasanganmu terlalu kaku (kayak kamu) dan bikin jemu, kamu bisa cari namaku di gawaimu, lalu kamu cari karya-karyaku. Di sana, ambilah penghiburan untuk hatimu, sebanyak yang kamu mau. Mana tau, kamu jadi tersenyum dan duniamu jadi penuh kilau. Lalu kamu sadar, kalau kisah kita itu mirip mitologi yang suka kuceritakan dulu: tidak nyata tapi membuat kaya kalbu.

Jadi, aku pamit dulu. Terima kasih sudah jadi candu untuk hidupku yang tidak teratur ini. Aku sayang kamu dan selamanya akan selalu seperti itu.

Post a Comment

0 Comments