Parasite : Bukan Sekadar Komedi Gelap Kesenjangan Sosial



Seberapa sering kalian membenci orang kaya dan menyukai orang miskin? Dan seberapa sering kalian membela orang miskin saat bermasalah dengan orang yang kaya?

Dari kecil, berbagai macam tayangan dan buku-buku banal mencekoki kita dengan satu keyakinan: orang kaya selalu salah kalau dibandingkan sama orang miskin. Dan usai menonton film Parasite (Gisaengchung) kolaborasi Bong Joon-ho dan Han Jin-won ini, kita akan menyadari bahwa keyakinan itu tidak selalu benar.

Ceritanya begini. Keluarga Kim adalah keluarga miskin Korea Selatan. Kim Ki-taek, sang kepala keluarga, adalah supir yang kehilangan pekerjaannya. Bagaimana mereka menyambung hidup? Dibantu istri, Choong Sook dan dua anaknya, Ki-woo dan Ki-jeong, mereka menyambung hidup dengan melipat tempat pizza. Mereka hidup di sebuah rumah gang sempit yang kumuh, tanpa privasi, penuh dengan aroma pesing tetangga yang gemar pipis sembarangan dan juga selokan.

Keadaan berubah saat kawan Ki-woo menawarinya pekerjaan sebagai guru les Bahasa Inggris di keluarga Park. Dengan bekal ijazah palsu, Ki-woo pun diterima dengan baik. Kepintaran bicaranya membuat dia mampu memasukkan sang adik, ibu, dan ayahnya bekerja di sana.

Cerita yang bahagia? Awalnya. Keluarga miskin yang mau bekerja keras dan keluarga kaya yang dermawan. Seolah melengkapi, bukan? Namun konflik baru dimulai ketika keluarga Kim melakukan kebohongan dari awal: mereka menyingkirkan supir dan pembantu lama di sana, dan mereka pura-pura tidak kenal.

Oh ya, mereka juga tidak tahu bahwa pembantu lama menyimpan rahasia di rumah itu, dan hal tersebut lah yang mengubah film ini ke arah yang kelam dan menegangkan.

Sebetulnya, di samping masalah kesenjangan sosial, ada satu hal yang bisa diambil dalam film ini: tidak selamanya kita bisa jadi orang baik yang naif, dan tidak selamanya orang miskin harus mendapatkan semua yang mereka mau. Begini maksudnya. Kalau keluarga Park tidak naif dari awal, tentunya mereka tidak akan termakan omongan Ki-woo untuk mempekerjakan orang-orang baru di rumah dan termakan fitnah Ki-woo serta Ki-jeong --yang notabene adalah orang-orang baru--.

Selain itu, keluarga Kim juga termakan oleh keserakahan. Gaji Ki-woo dan Ki-jeong sebagai guru tentu sudah sangat layak untuk menghidupi keluarga mereka. Namun bagi mereka, itu tidak cukup. Bagaimakan parasit, mereka terus-menerus menghisap segala hal di istana keluarga Park. Bahkan, mereka memfitnah "orang miskin lain" di rumah, siapa lagi kalau bukan si pembantu dan supir.

Jadi, apa yang penonton dapatkan? Kenyataan bahwa ada banyak orang miskin yang tetap menjadi miskin bukan hanya karena keadaan, tetapi karena mereka serakah. Saat dihadapkan pada uang, mereka ingin mengambil lagi dan lagi. Kalau perlu, menyingkirkan orang miskin lain. Ini belum lagi ditambah dengan skeptisisme mereka sama orang kaya: saat Choong Sook berkata kalau dia jadi kaya, dia juga akan jadi baik.

Maka, sesungguhnya masalah terbesar dunia yang senjang ini kurang lebih mungkin begini: orang yang kaya secara sosial kadang terlalu naif atau terlalu abai dengan sekitar, dan suka menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu (alias mubazir). Sementara itu, mereka yang lebih miskin bisa jadi terlalu malas untuk berjuang di jalan yang benar, menganggap orang kaya harus dihisap habis-habisan hartanya karena mereka adalah orang sombong dan layak mendapatkan itu, dan tentu saja, "kagetan" saat tiba-tiba mendapatkan banyak uang. Nah, kamu sekarang jadi tahu kan kenapa konflik duniawi ini tak ada habisnya?

Foto : IMDb

Post a Comment

0 Comments