Privasi



(#Difiksikan adalah segmen cerita fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Sebuah analogi, bisa jadi. Kisah nyata yang mana? Bisa saja yang hangat diperbincangkan, atau mungkin, kisah nyata dari mana saja. Bukankah dalam fiksi, kenyataan bisa didaur-ulang dan diubah?)



Alo adalah seorang musisi kamar. Sepulang dari kampus, dia tidak pergi ke mana-mana, tidak bertemu dengan siapa-siapa, kecuali terompet dan gitarnya, yang diberi nama Ola dan Oli.



Alo sangat mencintai keduanya dan mencintai kegiatan yang dia lakukan dengannya. Suaranya merdu, napasnya kuat, dan jari-jemarinya begitu lihai menari di atas gitar. Lagu andalannya adalah Massachusetts dan Hidupku Sunyi



Alo menikmati waktu dengan mereka berdua. Sampai pada suatu saat, kejenuhan melanda. Layaknya manusia pada umumnya, Alo butuh pengakuan.

Lelaki itu berpikir dengan cerdik: mengapa dia tak memanfaatkan kemajuan teknologi? Dia memang manusia kamar, tetapi sekarang ini dia bisa tenar tanpa harus benar-benar menenteng Ola dan Oli keluar dari kamar.



Dia pun menyiapkan berbagai macam piranti: ponsel, tripod, dan lampu sekadarnya. Memainkan Ola dan Oli dengan lihai, lagu pertama Massachusetts berbumbu sedikit jazz. Belum terlalu ramai tanggapan warganet, tetapi cukup positif.



Lagu kedua, lagu rampai, Hidupku Sunyi-Ayah-Gereja Tua. Menarik. Anak muda yang paham mesin waktu untuk kembali pada penyanyi lawas. Penggemarnya semakin banyak. Belum lagi, wajah Alo, layaknya musik yang dimainkan olehnya, indah. Unik, tidak terlalu simetris, tetapi menyenangkan.



Alo menikmati segala puja-puji yang hadir di lamannya. Ola dan Oli pun jadi tenar, bukan sekadar alat musik kamar yang apak saja. Namun, itu hanya sementara.



Lama-kelamaan, kamar Alo tak benar-benar bisa melindunginya lagi. Di depan rumah, banyak penggemar mampir. Di laman unggahan video, penggemar menanyakan identitas kekasihnya (yang tak pernah ia miliki), orangtua, kakek, nenek, bahkan buyut. Alo pun secara tak sadar, semakin terobsesi untuk menjadi sempurna. Dia merasa gagal bila ada kritik dan cercaan yang mampir ke kuping dan matanya.



Pada satu titik, Alo melihat ke arah Ola dan Oli. Keduanya masih sama. Tidak lebih kusam atau malah jadi pekak nada. Namun, Alo berpikir kalau setiap kali dia melihat keduanya, dia merasa berkeringat, tertekan, dan langit jadi kelabu.



Musisi kamar itu tak bisa lagi menikmati musik sebagai rumah yang siap menampungnya saat dunia begitu menyebalkan.

Post a Comment

0 Comments