Belajar Keikhlasan dari Profesi Ghostwriter


Ilmu yang sebetulnya tak bisa dipelajari dengan mudah, bahkan oleh orang yang dianggap bijak, sejatinya adalah ilmu ikhlas. Jadi begini. Ada orang yang punya bakat menyanyi, berakting, atau bahkan berbicara. Namun, ilmi ikhlas bukanlah bakat bagi manusia.

Ya, sebagai individu yang lahir dengan kemampuan berpikir, berimajinasi, dan tak pernah puas, manusia adalah makhluk yang tak diberi bakat ikhlas sejak lahir. Maka, bagaimana cara menjadi mahaguru dari ilmu ini, atau setidaknya mampu untuk menguasainya dalam kondisi tertentu?

Saya lantas teringat pada satu profesi: ghostwriter alias penulis bayangan. Di antara berbagai profesi yang menyangkut seni, sastra, dan pemasaran, inilah salah satu profesi yang akan mengajarkanmu ilmu ikhlas dengan sesungguh-sungguhnya.

Menulis kemudian diberi credit atas usahamu, itu biasa. Selain honor, kamu juga akan mendapatkan kesan baik dan kekaguman dari orang lain apalagi kalau kamu cakep dan bisa main gitar. Namun, ghostwriter harus merelakan hal itu, kadang juga dengan honor yang tak seberapa (terlebih kalau kamu mencari pekerjaan menulis di situs-situs freelancer, murahnya gila).

Ghostwriter merupakan alat dari orang ternama, perusahaan besar, hingga caleg-caleg untuk menuliskan konten sesuai dengan pesanan mereka. Kontennya bisa berupa apa saja. Bisa artikel lifestyle, ekonomi, kutipan media sosial, atau karya fiksi dan skenario.

Bagaimana tekanan kerjanya? Tentu bergantung pada honornya, pada tingkat kesulitan konten, dan juga dari kemampuan ghostwriter itu sendiri. ghostwriter profesional tentu bisa dengan mudah membuat konten lima ratus kata standar misalnya, dalam waktu kurang dari setengah jam.

Kebanyakan ghostwriter kini disewa dengan sistem lepas. Maksudnya, mereka tidak terikat pada perusahaan tertentu. Sekali pesanan, mereka bisa mendapatkan belasan hingga puluhan artikel. Kerja bisa di mana saja. Kafetaria, taman bermain, kamar, sampai WC bisa menjadi kantor mereka.

Menggiurkan? Nah, ini akan menggiurkan apabila kita mulai mau mempelajari ilmu ikhlas. ghostwriter memang mendapatkan honor dalam jumlah tertentu. Namun kalau mau direnungkan lebih dalam, sebetulnya honor mereka itu cuma seperti recehan bagi para perusahaan, stasiun televisi, bahkan para nama besar yang membutuhkan jasa mereka.

Ini tentu belum ditambah sama revisi dan juga pemaksaan dari klien untuk menulis sesuai dengan keinginan mereka. Kamu tidak suka menulis keunggulan suatu produk? Merasa kalau itu hiperbola? Maka, ucapkan selamat tinggal pada profesi ini. Tidak mau menulis cinta-cintaan yang dibumbui horor murahan? Ya, kamu mungkin lebih cocok kerja di air.

Profesi ghostwriter profesional hanya bisa dilakoni oleh mereka yang sudah tak membutuhkan pengakuan, gampang mematikan rasa, dan tidak baperan. Bayangkan kalau kamu baper, lalu kamu dikomplain oleh klien, tentu kamu akan marah dan jasamu tak akan dipakai lagi.

Tahu kenapa? Profesi ini juga bergantung pada channel dan words of mouth. Kalau satu klien puas sama kamu, maka dia bisa merekomendasikan kamu ke klien lain. Atau, kalau ada satu ghostwriter yang menganggap kamu profesional, dia bisa mengajakmu ke proyek yang digawangi kenalannya.

Namun, mereka yang sudah kaliber di dunia ini jelas sudah paham ilmu ikhlas dan sudah punya stok kata-kata yang melekat di otak. Mereka adalah wakil-wakil KBBI yang paham kapan -pun dipisah dan kapan hal itu disambung. Mereka sudah tak butuh pengakuan atas kemampuannya yang seringkali tak berguna di tengah para warga negara yang bahkan tak bisa membedakan "merubah" dan "mengubah".

Bagi mereka, invoice bisa cair dengan mudah, honor turun sesuai perjanjian, dan hubungan dengan klien terjaga dengan baik, itu sudah lebih dari cukup.

Mereka sudah menganggap proses menulis sama dengan buang air kecil: kamu membuang sebagian hal dalam dirimu, kemudian membiarkannya jatuh ke saluran pembuangan, entah sampai mana, entah dipakai untuk pupuk kompos atau untuk menyiram tanaman. Sebuah analogi yang menjijikkan? Tidak. Karena sesungguhnya, manusia hanya mampu ikhlas secara otomatis saat mereka buang air saja.

Dan sebagai ghostwriter, kamu harus belajar bagaimana membuat otakmu selalu berada dalam kondisi seperti buang air.

Post a Comment

0 Comments