Lima Tahun Pernikahan yang Berat



Jujur saya bukanlah penggemar drama korea (kecuali Voice) dan saya tidak menonton Descendants of The Sun. Namun, saya juga tahu bahwa Song-Song Couple --begitu sebutan bagi Song Joong Ki dan Song Hye Kyo-- adalah sepasang selebritas Korea dengan bayaran tinggi.

Saya juga tahu tentang hebohnya pernikahan mereka, yang walaupun cukup sederhana dan tertutup, tetapi dianggap ideal. Masalahnya adalah, kini mereka dikabarkan tengah menghadapi proses perceraian.

Seorang kawan bertanya begini kepada saya: menurutmu, apa yang salah dari mereka? Mereka kaya, sudah jelas. Sama-sama berada dalam usia matang (alias bukan menjalani pernikahan dini). Punya penampilan yang baik, sudah tentu. Rasanya, sebelum menikah pun mereka sudah mengeliminasi berbagai bibit buruk yang biasa dimiliki muda-mudi kebelet nikah.

Namun, terlepas dari masalah pribadi mereka yang sebetulnya tak kita pahami, harus diakui bahwa hampir semua orang mengatakan bahwa lima tahun pertama pernikahan, bukanlah hal yang manis sama sekali. Alih-alih seindah dongeng, lima tahun pernikahan justru merupakan waktu saat banyak orang menyesali pertemuan mereka dengan pasangan.

Apa sebabnya? Apakah mereka kurang mengenal satu sama lain? Belum tentu. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi, lima tahun pertama pernikahan menjadi begitu buruk karena ekspektasi yang berlebihan.

Lantas, marilah kita uraikan apa saja yang biasa diharapkan oleh pemuda-pemudi yang sedang wuyung alias kasmaran terhadap pernikahan. Pertama, tentu mereka berharap bahwa pernikahan bisa menjadi perekat antara mereka dengan sang kekasih (memangnya isolasi). Konyol sih, tapi kalau diborgol sekalipun, para love birds ini pasti akan iya-iya saja, selama diborgol bersama kakang atau adinda tercinta.

Kedua, ingin lepas dari orangtua. Pernikahan seringkali dianggap sebagai jalan keluar dari kekangan orangtua. Maklum, saat pacaran, beberapa orang mendapatkan kekangan dari orangtua mereka.

Ketiga, ingin lepas dari beban materi atau pekerjaan rumah. Baik wanita maupun pria, ada yang menikah dengan tujuan ini. Pernikahan dianggap sebagai ladang uang atau bahkan ruang untuk mencari "asisten rumah tangga gratis"

Terakhir? Tentu saja, menghindari zina. Ah, ini bukan yang sering jadi alasan kenapa orang menikah --tidak lain karena tak mampu membendung nafsunya sendiri--?

Dengan menikah, harapan-harapan itu mungkin bisa terkabul. Lantas, apa jadinya adalah bahagia selalu? Ya belum tentu. Soalnya, seiring dengan terkabulnya beberapa harapan, maka muncul pula masalah-masalah baru.

Masalah-masalah itu antara lain ketidakcocokan dengan pasangan (yang baru terlihat ketika harus menyelesaikan sebuah problema bersama), masalah ekonomi, prinsip yang ternyata berbeda, dan tentu saja, ketidakcocokan antara dua keluarga. Kamu mungkin bisa memiliki chemistry dengan pasanganmu, tetapi dengan keluarganya? Belum tentu.

Maka, ketika sepasang suami istri memutuskan untuk bercerai, alasannya tidak selalu bisa dengan mudah dijabarkan. Bahkan, meskipun bagi beberapa orang alasan itu konyol, tetap saja alasan itu tidak dibuat-buat.

Mungkin, sering bagi kita mendengar alasan ketidakcocokan sebagai dasar dari perceraian selebritas, dan kita menertawainya. Padahal, itu masalah serius. Ketika kamu merasa tidak cocok dengan seseorang (atau keluarganya), waktu yang kamu habiskan bersama mereka akan terasa seperti sebuah ospek di neraka. Enak? Mending jomblo tentunya.

Lantas, kenapa lima tahun? Lima tahun pertama adalah masa orientasi, masa penyesuaian. Lima tahun itu adalah masa saat kamu terkaget-kaget memasuki dunia baru, dengan orang tercinta yang entah kenapa bisa jadi begitu menyebalkan. Ketika tidak ada lagi sekat antara kamu dan pasangan, maka adrenalin dalam dirimu pun perlahan meredup. Lha adrenalin untuk apa? Wong dia sudah jadi milikmu seorang, dan seluruh dunia tahu itu.

Dan, kalau kamu masih berpikir apabila pernikahan itu cukup dengan karier baik, ekonomi mapan, wajah cakep, anak-anak yang sehat, hmm, tidak selalu tepat. Pernikahan bisa jadi penjara bagi mereka yang ingin kebebasan. Pernikahan juga bisa jadi hutan belantara yang membingungkan bagi mereka yang ingin kehidupan yang aman terkendali.

Jadi, kalau kamu mendengar bahwa dua orang yang sempurna ingin berpisah atau senantiasa ribut, ada dua hal yang mereka butuhkan. Pertama, konselor pernikahan atau pemberi nasehat yang bijak. Kedua, tentu saja perceraian, bila keduanya memang tak mau bersama lagi.

Karena lima tahun awal bukan hanya proses belajar hidup bersama dalam ikatan berlandaskan hukum, tetapi juga proses untuk menemukan dirimu sendiri yang tepat.


Post a Comment

0 Comments