Mencoba Mencari Lagi Esensi Hidup


Dahulu kala, di bumi yang sepi dan tanpa makna ini, Tuhan menurunkan Adam dan Hawa. Keduanya ditakdirkan untuk memulai kehidupan, beranak pinak, dan membangun peradaban. Orang-orang mulai berpasang-pasangan, berbagi cinta, mengenal arti tolong menolong, mulai berbahagia dengan hal-hal sederhana.
Seperti halnya kupu-kupu, mekanisme hidup juga bermetamorfosis.

Kehidupan mulai berkembang di semua aspek, kemudahan-kemudahan mulai diciptakan oleh orang-orang pintar. Kita mulai ada, teknologi sederhana mulai tercipta, kita mulai bisa menghubungi sanak yang ada di jauh walau dengan tarif yang sangat mahal.

Waktu berlalu, berbagi kabar dengan orang jauh menjadi tidak sesukar sebelumnya. Bahkan, kita juga bisa mulai berkenalan dengan orang-orang baru yang sebetulnya sama sekali belum pernah kita temui.
Lalu, manusia berhasil menciptakan dunia baru. Dunia yang barangkali tidak lagi asing. Dunia itu bernama dunia maya.

Waktu berganti, cara menjalani dan menikmati hidup pun semakin ragam. Pergi ke mana pun bisa juga tanpa melangkahkan kaki. Mau ke mal, bisa kok melalui ponsel. Pesan makanan? Gampang! Ada ojek online. Ya, sekarang ini, sama sekali tidak ada yang sulit untuk memperoleh sesuatu.
Segala hal mulai berubah. Kita begitu dimanjakan oleh kapitalisme. Namun, kenapa hidup ini terasa begitu hampa? Amat kosong dan tanpa makna.

Fasilitas terpenuhi, apa-apa mudah dijangkau. Namun, monotonitas masih saja menyelimuti diri. Hidup kita, secara pribadi, hanya diisi dengan bangun tidur, bekerja sampai sore, main media sosial ketika malam, lalu membeli pakaian di toko online yang mendapat testimoni positif, kemudian tidur. Begitu setiap hari, berulang-ulang, terus-menerus. Sesekali ketika liburan, hal-hal menyenangkan hanya berupa membaca gosip lambe-lambean sepanjang hari.

Sering, kita dongkol melihat teman SD sukses. Bisa beli mobil dan sering berjalan-jalan ke luar negeri. Atau, melihat teman SMA yang dulunya tidak pintar, tetapi sekarang hidup berkecukupan, kuliah di kampus idaman, dan menjadi model di berbagai event, membuat hati kita hancur. Kita meresahkan hidup orang lain yang tampak lebih beruntung daripada kehidupan kita yang begini-begini saja dan sangat membosankan.

Ya, kehidupan zaman ini hanya menawarkan surga fatamorgana. Kesenangan yang sifatnya sesaat alias sementara, sebenarnya hanya tipu muslihat. Begitupun kesedihan. Kita jadi mudah bersedih. Emosi sulit dikontrol. Kita benar-benar kehilangan esensi hidup.

Kita lupa bahwa hidup kita sangatlah bermakna. Karena terlalu sering melihat ke luar, kita jadi lupa bahwa kebahagiaan sebenarnya begitu dekat dengan kita. Kebahagiaan ada pada senyum keluarga kita. Kehangatan itu, ada di dalam rumah kita. Ia terisi penuh tanpa celah. Karena di rumah lah, kita bisa menjadi diri sendiri. Kita bisa melepas segala bentuk kepura-puraan dan kepalsuan yang seharian kita perankan.

Maka, tak bisakah kita menerima diri sendiri? Bukankah seharusnya, kunci kebahagiaan adalah dengan menerima diri dan jalan kita secara baik-baik? Kita hanya perlu setuju pada takdir yang diberikan Tuhan.

Kita mengizinkan bahwa kita tidak bisa mendapat gaji 30 juta setiap bulan. Kita setuju bahwa kita tidak bisa cum laude walaupun sudah belajar sampai larut malam, kita menerima kenyataan bahwa kita tidak akan merasakan menjadi presiden sampai akhir hayat. Hal-hal semacam itu, kita terima tanpa rasa menyesal, pun tanpa rasa bersalah. Kita sudah bahagia atas pencapaian-pencapaian kecil seperti, bisa merasakan punya anak walaupun harus mengurusnya sendiri dengan susah payah tanpa bantuan pramusiwi alias pengasuh, kita tidak punya kanker kulit, kita ditakdirkan untuk tinggal di kawasan yang jauh dari kemungkinan tsunami, atau hal-hal lain yang di mata orang lain, hal itu sama sekali tidak bermakna.

Maka, bila kita mau dengan sungguh-sungguh memberi makna pada hidup dan mau menerima diri kita bukan karena merasa “ah, aku memang tidak bisa hidup seperti mereka”, tetapi lebih ke “terima kasih, Tuhan, pemberian ini sungguh diluar dugaan. Aku amat sangat merasa diberkati.”

Cobalah peluk erat-erat apa yang kamu punya, dan jangan meresahkan hidup orang lain. Sebab, seperti kata motivator-motivator terkemuka, “tidak ada orang yang benar-benar bahagia hanya dengan materinya. Yang ada, kebahagiaan abadi bersumber dari bagaimana cara kita menerima apa dan memberi makna pada hidup kita yang begini-begini saja.”

Post a Comment

3 Comments

  1. Keren kak artikelnya

    Saya juga nulis Artikel judulnya budaya atau gaya

    ReplyDelete
  2. Saya ikut Even yang kakak buat

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete