Manifesto Romantisisme







Oleh : Arya Saputra Puasa
Instagram: @penikmat_sastra00
Romantisisme merupakan haluan pada abad ke-18 yang mengutamakan soal perasaan, pikiran dan tindakan spontanitas. Romantisisme juga merupakan salah satu aliran seni yang berasal dari Eropa yang memiliki emosi yang sangat kuat dari energi estetika. Kesan dari emosi yang sangat kuat ini mampu melahirkan kesan romantic, takut, kagum terhadap sesuatu yang dihasilkan dari apa yang dilihat juga dirasakan.
Tak akan ada habisnya ketika kita coba mengubrak-abrik sesuatu yang disebut romantisisme ini. Romantisisme sering kali didefinisikan dengan hal-hal yang berhubungan dengan bunga, cokelat, cincin, pergi ketempat yang indah dan sebagainya. Akan tetapi, apakah romantisisme sesempit seperti definisi itu?. Tidak, romantisisme tidak selalu tentang bunga, cokelat, dan cincin. Bahkan untuk hal-hal yang kita anggap biasa saja biasa jadi jauh lebih romantis. Mari kita flashback sejenak kisah Rasulullah dan Aisyah;
Suatu hari Aisyah dicengkram rasa khawatir. Pada saat itu hingga menjelang shubuh Aisyah tidak menjumpai suaminya Rasulullah tidur di sebelahnya, dengan gelisah Aisyah pun mencoba berjalan keluar. ketika pintu dibuka, Aisyah terbelalak kaget. Rasulullah sedang tidur di depan pintu. Apa kata Aisyah?.
"Mengapa Nabi tidur di sini?"
"Aku pulang larut malam, karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu," jawab Nabi.
Betapa romantisnya kisah ini, romantisisme tidak selalu soal materi.
***
Romantisisme juga selalu dikaitkan dengan yang namanya cinta, dan yang jadi pertanyaan apakah cinta yang melahirkan romantisisme ataukah romantisisme yang melahirkan cinta? Apakah romantisisme itu bagian dari cinta? Ataukah cinta bagian dari romantisisme?. Cintalah yang melahirkan romantisisme, karena bumi ini diciptakan dengan cinta, dan dengan cinta pulah kita dilahirkan. Seperti kata salah seorang filsuf; “aku tidak berasal dari barat, aku tidak berasal dari timur, aku berasal dari cinta”.
Sekilas ketika kita berbiara soal cinta yang terbayanag  dalam benak kita mungkin adalah soal rasa rindu, sayang, benci, sakit, kecewa, senang, takut, dan sebagainya. Namun apakah itu semua berhubungan dengan cinta? Coba kita renungkan lagi, apakah benar itu memang cinta ataukah ego?
Pernah sesekali kita mendengar orang-orang mengatakan “aku sakit hati karena cinta”. Ini adalah kalimat yang sangat tidak relevan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa fungsi dari hati? Hati berfungsi menawarkan dan menetralisir racun, mengatur sirkulasi hormon, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula, protein, dan zat lain. Hal yang akan terjadi ketika hati terluka atau sakit maka besar kemungkinan untuk mati. Maka yang sakit bukan hati tapi ego kamu yang terlukai.
Hakikat dari cinta murni adalah tanpa rasa sakit. Banyak yang bertanya, “kenapa cinta itu menyakitkan?” dan biasanya juga “bagaimana cara agar tidak tersakiti oleh cinta?”, “Apakah cinta benar-benar menyakitkan?”. Yang pertama, cinta tidak akan mampu menyakitimu jika kamu tak memberinya izin. Coba kita bayangkan skenario berikut ini;
Kamu menyukai seseorang dan kemudian rasa suka itu berubah menjadi rasa cinta, dan kemudian cinta yang ada dalam dirimu itu perlahan menjadi begitu besar, alhasil kamu jadi punya ekspektasi, keinginan-keinginan yang muncul untuk memiliki orang yang kamu sukai. Dengan hasrat untuk memiliki karena cintamu yang begitu besar kamu berpikir untuk menyatakan cinta. Lalu tragisnya, kamu ditolak. Dan akhirnya kamu membuat kesimpulan “Ahh cinta itu menyakitkan”.
Mari kita analisis akar masalahnya, dengan sangat jelas terlihat bahwa yang membuat kamu sakit adalah ekspektasi, atau besar keinginan untuk memiliki, yang kamu ciptakan sendiri. Cinta adalah perasaan indah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan memiliki. Cinta adalah menikmati keindahan baik memiliki ataupun sebaliknya. 
Ekspektasi muncul dari ego yang gemar mengontrol, tapi itu datangnya bukan dari cinta. Jika kamu mencintai seseorang, biarkan dia terbang bebas, kamu akan tetap bisa mencintainya tanpa perlu menghadirkan ego memiliki atau mengontrolnya. Kamu masih bisa membuatnya bahagia, masih bisa memberi, masih bisa berbuat baik. Cinta adalah berani melepaskan, sedangkan ego adalah takut kehilangan.
Sekarang, satu lagi skenario cinta. Kamu menjalin cinta kasih dengan seseorang namun setelah itu dia memutuskan cintanya denganmu karena dia merasa sudah tidak cocok lagi bersama denganmu. Seiring berjalannya waktu kamu mendapatinya menjalin cinta lagi dengan orang lain. Akhirnya yang kedua kalinya kamu memberi kesimpulan “Ahh cinta itu menyakitkan lagi”.
Cerita dari skenario cinta ini sangat jelas bahwa yang membuatmu sakit adalah ekspektasi dan ego mengontrol “mantan” pacarmu. Namun ketika kamu tidak bisa mengontrolnya kamu malah menyalahkan cinta. Jika kamu memang benar-benar mencintainya seharusnya kamu harus bahagia melihat dia bahagia bersama dengan orang lain. 
Bukankah sebenarnya cinta itu hanya menginginkan yang terbaik untuk orang yang dia cintai, bukankah cinta berfokus kepada kebahagiaan yang kita cintai, sedangkan ego itu hanya berfokus kepada pemuasan diri semata. Cinta tidak pernah menghadirkan sakit, jika kamu mengetahui apa yang menjadi rahasia dunia ini, maka yang akan kamu pilih adalah cinta. Ketika mendengar cerita ini teman saya mengatakan “astagah” dengan wajah tersenyum simple seperti Eric From.
Ya, memang menyakitkan ketika melihat mantan pacar yang sangat kita cintai kini bersama dengan orang lain. Namun berulang kali, lagi dan lagi yang membuatmu sakit bukanlah cinta tetapi ego yang keinginannya tidak terpenuhi. Cinta tidak sanggup membuatmu sakit, karena sejatinya hakekat cinta murni adalah keindahan bukan rasa sakit. Yang membuatmu sakit adalah egomu sendiri, ego dalam kemasan ekspektasi dengan keinginan dan hasrat untuk memiliki. Itu sebabnya, awal cinta itu sangat indah namun tak berapa lama semua berantakan karena ego keduanya yang ingin saling mengontrol, ingin saling posesif, ingin saling dimegerti namun tidak ingin mengerti.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah cinta tidak menghadirkan rasa sakit, cinta adalah menikmati keindahan, yang membuatmu sakit adalah ego itu sendiri dengan ekspektasi dan keinginan untuk mengontrol. Jika ego membuatmu sakit sebenarnya kamu punya kekuatan untuk bisa mengontrolnya. Jika memang benar cinta dengan seseorang kurangi ekspektasi dan terimalah kenyataan. Tetaplah berbuat baik dan memberi yang terbaik kepada orang yang kamu cintai. Karena jika ia memang jodoh, kalian tetap akan dipertemukan dan disatukan kembali atas nama cinta.
“Aku berkata kepada cinta, aku tidak ingin mati sebelum mengenal dan menemukanmu. Cinta menjawab, yang mengenal dan menemukanku tidak akan mati”. -Jalaluddin Rumi-

Post a Comment

0 Comments