Joko Widodo, Antara Gaya Komunikasi Equalitarian dan Withdrawal




Membaca berita tentang pernyataan-pernyataan Presiden Joko Widodo terkadang membuat kita merasa bak menonton stand-up comedy : entah bit alias lelucon apa lagi yang bakal keluar. 


Ini bisa jadi sebuah pernyataan berkonotasi positif atau negatif, tetapi bagi seorang presiden, sudah seharusnya pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan kepada awak media sudah tersaring dengan baik. Tentu, presiden bukanlah komika. Urusan negara sangat serius.


Presiden Joko Widodo adalah sebuah fenomena. Ini bukan hanya karena dia (dianggap) datang dari kalangan menengah-kebawah dan punya karier pesat. Gaya komunikasi politik Joko Widodo juga dianggap membumi dan menyentuh sisi manusiawi masyarakat.


Presiden, dalam hal ini di Indonesia, lekat dengan pernyataan-pernyataan resmi, retoris, jauh dari gurauan yang dekat dengan masyarakat. Presiden Joko Widodo mendobraknya dengan banyak hal : penggunaan kalimat-kalimat sederhana, memasukkan budaya populer, dan juga hal-hal yang sedang hype di masa kini.


Gaya Komunikasi Politik ala Joko widodo

Beberapa ahli menggolongkan gaya komunikasi menjadi enam jenis.


Yang pertama adalah The Controlling Style. Gaya mengontrol ini terlihat jelas bermaksud untuk membatasi. Komunikator pun terlihat otoriter. Komunikan seolah tak punya ruang untuk memberikan umpan balik.


Yang kedua adalah The Equalitarian Style. Komunikan, dalam gaya ini, menggunakan pola komunikasi dua arah. Komunikan dapat memberikan umpan balik dan komunikator tidak menggunakan bahasa menekan.


Yang ketiga adalah The Structuring Style. Sebelum menyampaikan pesan, komunikator terlebih dahulu merancang apa saja yang akan dia bicarakan.


Yang keempat adalah The Dynamic Style. Pola komunikasi dinamis ini bertujuan untuk menyampaikan kepada komunikan agar melakukan hal-hal guna mencapai tujuan. Biasanya, komunikan tidak memahami betul esensi dari pesan.


Yang kelima, The Relinguishing Style. Pemberi pesan tidak ingin membombardir komunikan dengan pesan-pesan sesuai keinginannya. Bahkan, komunikator seolah memberi tanda kesiapan untuk mendapatkan saran dan pendapat komunikan.


Sementara itu, yang terakhir adalah The Withdrawal Style. Artinya, komunikator tidak punya minat untuk menyampaikan pesan. Ia cenderung ingin menghindari suatu topik.


Sebelum pemilihan Presiden 2019, Gun Gun Heryanto, seorang pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah mengatakan bahwa gaya komunikasi politik Joko Widodo adalah Equalitarian. 


Artinya, tentu ada kesan bahwa Joko Widodo bermaksud untuk menjadi sama dengan komunikan. Cara untuk membangun kesamaan itu ada banyak macamnya. 


Mulai dari menggunakan kalimat-kalimat sederhana, sampai dengan menggunakan elemen budaya populer. Tentu kita semua tidak akan lupa dengan pernyataan beliau terkait mobile legend dalam Debat Capres. Pernyataan itu dilontarkan kala membahas masalah ekonomi kreatif.




Dari Avengers, Kecerdasan Buatan, Sampai Didi Kempot

Bicara soal (usaha) untuk menjadi sama, Presiden Joko Widodo adalah jagonya. Tentu sudah sangat banyak pernyataan dengan nuansa sederhana yang dilontarkan sejak dirinya mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.


Beberapa mudah diingat, banyak yang dilupakan, mungkin saking seringnya. Yang cukup membekas mungkin seperti penyisipan Avengers dalam pidato di World Economic Forum 2018. Dunia tengah menghadapi Infinity War pelik. 


Belum lama ini, Presiden juga menyebutkan soal masalah Artificial Intelligence alias Kecerdasan Buatan. Eselon III dan IV dalam tatanan Aparatur Sipil Negara hendaknya diganti kecerdasan buatan saja supaya lebih efisien.


Pernyataan ini belum saja terlupakan, dan menyusul pernyataan lain yang tak kalah kontroversial di akun Twitternya @jokowidodo. Bahwa nilai Pancasila bisa dihadirkan lewat olahraga, musik, dan film. Tidak masalah jika nebeng Didi Kempot.


Ini mungkin sedikit mengingatkan kita kepada berita-berita di aggregator. Yang ditampilkan adalah berita-berita yang paling menyentuh isu kekinian. Presiden Indonesia ini (dan timnya, tentu saja) terlihat selalu ingin menghubungkan segala ucapannya dengan hal-hal yang sedang digemari, relevan ataupun tidak.


Pernyataan-Pernyataan Fenomenal Presiden dan Kenyataan

Pada perhelatan pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, Joko Widodo memberikan beberapa janji. Salah satunya adalah janji untuk tidak menjadi kutu loncat politik, alias mencalonkan diri pada Pilpres 2014


Nyatanya, seperti yang kita ketahui, Joko Widodo mencalonkan diri bersama Jusuf Kalla, dan memenangkan Pilpres tersebut. Kondisi serupa berulang di tahun 2019, dengan lawan politik yang sama, Prabowo Subianto.


Presiden Joko Widodo juga sempat menjanjikan penurunan utang. Namun, rasio utang pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, bila dibandingkan dengan sebelumnya, meningkat hingga 30 persen.


Tentu tidak semua janji tak ditepati. Ada janji-janji yang lunas. Seperti peningkatan infrastruktur untuk transportasi dan pangan, dan penambahan akses transportasi. 


Namun, janji hanyalah elemen dari komunikasi. Gaya komunikasi Joko Widodo, terlepas apapun janjinya, masih mencoba untuk menjadi equalitarian. Namun, dalam beberapa kesempatan, terlihat gaya komunikasi withdrawal. Berkali-kali Joko Widodo menolak untuk menjadikan sebuah hal sebagai urusannya, alias malas untuk mengomentari isu-isu tertentu, yang sebetulnya masih berada dalam lingkup pemerintahannya.


Contohnya, seperti isu bus TransJakarta mangkrak, jembatan Tanah Abang yang miring, sampai kacaunya pembagian Kartu Jakarta Pintar. Ketiganya adalah isu yang emoh dibicarakan Joko Widodo pada saat dirinya menjabat Gubernur DKI Jakarta 


Usai menjabat sebagai presiden, Joko Widodo juga sempat menunjukkan keengganannya berulang kali dalam berkomunikasi perihal berbagai isu. Contohnya seperti isu Esemka, yang dianggapnya urusan industri. Yang lebih krusial, adalah saat Joko Widodo menunjukkan ketidakmauannya berkomentar lebih dalam kasus Novel Baswedan. 


Pilpres 2019 sudah usai, dan lawan Joko Widodo bahkan sudah menjadi menteri-nya sendiri. Tentu Presiden dan timnya tak perlu jungkir-balik pusing setengah mati mencari gaya komunikasi yang mampu mengambil hati masyarakat Indonesia. Ini adalah masa jabatan terakhirnya, kecuali jika memang ada wacana revisi jabatan presiden.

Post a Comment

0 Comments