Ojo Gumunan : Sebuah Filosofi Jawa






Orang Jawa punya satu filosofi yang singkat, padat, tetapi menarik untuk direnungi : ojo gumunan. Terutama tentu untuk kondisi masa kini, di mana informasi semakin banyak dijejalkan ke panca indera kita, dari mana saja. 

Ojo gumunan bermakna, jangan mudah takjub. Saat melihat sesuatu yang menurut kita memesona, takjub mungkin merupakan sebuah reaksi wajar. Namun, gampang terbuai sama pesona itu tentu akan menyesatkan.

Terlalu mudah takjub, akan membuat kita berpotensi mengalami hal-hal berikut:
- Gampang dibohongi orang, karena kita sudah telanjur percaya sama orang yang kita kagumi secara buta
- Menumpulkan pikiran. Kita malas mencari tahu sisi lain dari sesuatu yang kadung kita puja
- Mengalami cinta buta. Cinta itu indah. Cinta buta itu baru tidak baik. Cinta buta akan menyesatkanmu. Kamu akan jadi budak dari hal yang kamu cintai tanpa akal.


Maka dari itu, setiap kali kamu menerima informasi yang membuatmu kagum, setiap kamu melihat sesuatu yang seolah terlalu indah jadi kenyataan : jaga pikiranmu. Kagum sesaat boleh, tetapi jangan lupa pulang ke dunia nyata.

Cari tahu mengapa kamu kagum. Pikirkan apakah kekagumanmu berlebihan? Dan kemudian, lihat bahwa apa yang kamu kagumi itu juga punya sisi lain. 




Jadilah kritis. Jangan gampang takjub. Dan, ikuti pula dengan falsafah Jawa lain : ojo dumeh (jangan mentang-mentang), ojo gumedhe (jangan merasa gede). Sesungguhnya kita dan hal lain di dunia ini adalah fana belaka. Jalanilah hidup secara seimbang. Sewajarnya.

Tidak ada hal yang sempurna. Untuk itulah hidup jadi lebih menyenangkan. Dan karena itu, ingat untuk ojo gumunan. 

Post a Comment

0 Comments