Pelecehan Seksual, Kekuasaan, dan Doktor Psikolog



Mungkin kamu sudah dengar mengenai kasus seseorang yang mengaku 'pakar psikolog'. Lelaki itu mengajak banyak wanita -yang merupakan peserta-peserta training-nya- untuk melakukan sesi terapi di kamar.


Sebelumnya, perlu diketahui bahwa pria yang satu ini bukanlah psikolog. Ia hanya menempuh pendidikan psikologi untuk S3 saja. Psikolog adalah mereka yang menempuh pendidikan sarjana psikologi dan mengambil magister bidang psikologi klinis.


Meskipun ia mengaku bahwa ia tak pernah sekali pun menyebut dirinya psikolog, tetapi bukan itu saja pokok masalahnya. Masalahnya adalah, banyak orang yang bercerita bahwa mereka diajak melakukan sesi terapi pribadi, di kamar hotel, dan pada saat itu si 'doktor psikolog' meraba-raba bagian tubuh, bahkan menjurus pada hubungan intim, tanpa konsensus. 


Ini tentu sudah masuk ranah pelecehan seksual. Namun, mengapa korban bisa menurut? Bukankah berada di kamar hotel dengan orang asing itu berbahaya?


Semua berawal dari kepercayaan dan rasa hormat.


Si oknum pelaku merupakan orang yang tenar. Dengan membawa embel-embel "motivator dengan pendekatan psikologi", maka dia dianggap jago dalam psikologi. Apalagi, dia sering diundang dalam berbagai acara tenar, seperti I am Possible dan Kick Andy.


Pada saat mengiyakan terapi pribadi, para pasien ini menganggap bahwa si doktor psikolog ini akan mampu menyembuhkan mereka, dan seperti itulah metodenya.


Lalu, bagaimana dengan teori kekuasaan dan konsep relasi kuasa?


Dalam The Birth of Clinic, Foucault menceritakan tentang lahirnya klinik dokter, di mana pada saat pemeriksaan, dokter memiliki kuasa buat menentukan apa yang terjadi pada tubuh pasien. Sementara itu, dalam bukunya yang lain, Madness of Civilization, Foucault menekankan tentang kisah para pasien rumah sakit jiwa. Di sana, tindakan pasien salah, dan para ahli mencoba "mengembalikan mereka ke jalan yang benar".


Sayangnya, doktor psikologi itu tak punya sertifikasi, tak punya kompetensi buat melakukan hal-hal semacam itu. Kita hidup dalam sebuah tatanan di mana perjanjian berupa hukum jadi landasannya. Ada norma-norma tertentu serta kualifikasi yang sudah ditetapkan lembaga-lembaga yang punya kekuatan hukum (ini juga ada hubungannya sama teori kekuasaan).


Masalahnya, tanpa sertifikasi, tanpa kualifikasi yang jelas, apa yang dilakukan doktor psikologi itu jadi bias, tak punya landasan.


Kita kembali pada masalah pasien yang mau diajak terapi. Pada saat ini, pasien merasa bahwa mereka bisa memercayakan tubuh dan pikiran pada si doktor psikologi ini : sederhana, karena mereka mengira bahwa doktor psikologi ini punya pengetahuan kuat soal gangguan mental, dan mereka tidak.


Mereka menganggap bahwa dia kompeten soal kesehatan mental, maka di sinilah relasi kuasa itu terjadi. Pasien yang merasa tak punya pengetahuan, butuh pertolongan, dan oknum pelaku pelecehan seksual yang seolah bisa memberikan hal itu.


Maka, dalam kasus ini, meskipun korban terlihat tak berhati-hati, tetapi mereka tak bersalah sama sekali. Karena, ada alasan kuat mengapa mereka percaya saja dibawa ke dalam kamar hotel. Dan, mereka juga kurang tahu tentang bagaimana seharusnya terapi dilakukan.


Jadi, memang bijaknya kita tak pernah menyalahkan korban dari seorang oknum yang memegang kuasa, dan menggunakan kekuasaan itu buat memperdaya orang lain.

Post a Comment

0 Comments