Wawancara Fiktif Bersama Supir Bus yang Mau Jadi Tuhan dalam Buku 'The Bus Driver Who Wanted to be God' Karya Etgar Keret


Hai! Kini kita berada di segmen terbaru Graf, yakni wawancara fiktif dengan tokoh supir bus dalam kumpulan cerpen karya penulis asal Israel, Etgar Keret : The Bus Driver Who Wanted to be God. Alias, supir bus ini mau jadi Tuhan!

Jadi, supir bus ini dikenal kaku. Nggak mau menunggu penumpang yang telat barang sedetik.

Namun, dia pernah dan kadang masih bercita-cita jadi Tuhan. Apa ada hubungannya ya sama sifat dia yang disebelin banyak orang ini? Simak wawancara kami. (MG = Mingraf, SB = Supir Bus)




MG : Hai, supir bus. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu buat wawancara. Kami nggak ganggu jadwal kamu kan?
SB : Kebetulan sedang libur. Tayo saja punya jadwal libur, supir bus masak tidak?
MG : Hmm, bukannya kamu sangat berdedikasi tinggi ya? Maksudnya, aku dengar kamu itu supir bis paling on time. 
SB : Peraturannya memang gitu kan? 
MG : Gimana sama penumpang yang mengejar bus padahal dia cuma telat satu dua detik?
SB : Lho, ya salah dia. 
Bus itu transportasi massal. Kalau mau atur waktu seenaknya, pakai ojol!
MG : Sebentar, sebentar, tetapi kok si Eddie…
SB : Oh, anak bucin itu? Hmm (menundukkan kepala sejenak). Jadi begini. Anak itu bikin aku inget bahwa cita-cita pertamaku adalah jadi Tuhan. Yang kedua, jadi supir bus. Ya kadang waktu jadi supir bus, kamu sedikit bisa merasakan tugas Tuhan. Alias, kamu bisa mengatur siapa yang mau kamu bukakan pintu, siapa yang enggak.

Nah, dia kayaknya ada jadwal kencan deh. Makanya dia mati-matian kejar busku.

MG : Dan?

SB : Waktu lampu merah nyala, dia akhirnya bisa masuk bis. Sayangnya, si gebetan malah pacaran sama cowok lain. Mirip lagu Kahitna yang judulnya 'Baper'. Dia sebetulnya telat lagi waktu mau pulang. Namun, akhirnya aku bukakan pintu.

MG : Wah, Eddie ini istimewa ya..
SB : Begini lho. Semua orang punya pengalaman spiritual. Waktu aku pengin jadi Tuhan dulu, aku janji sama Tuhan kalau aku mau jadi Tuhan yang baik. Nah, aku menolong Eddie karena, bukankah Tuhan yang baik punya pengampunan untuk kasus-kasus tertentu?

MG : Filosofis sekali! Sampai kapan mau jadi supir bus?
SB : Selamanya. Aku pikir jadi Tuhan itu repot. Baru satu pengampunan saja aku sudah dilema. Gimana kalau ratusan?

Post a Comment

0 Comments