Selamat Tinggal



Minggu lalu, di halaman rumahku,  kita duduk berhadapan. Matamu binar, mata kita bertatapan. Seperti kata pakar cinta, barangkali pupil mataku membesar, penuh gairah menerima cintamu yang terlihat tumpah ruah.

Beberapa menit kemudian, kau memberi kecup di bibirku beberapa lama. Ah, senangnya aku, untuk yang pertama kalinya.

Kau menggenggam jari jemari tanganku, meyakinkanku bahwa ini tak akan berakhir. Itu terasa sempurna, Sayang. 
Hal-hal manis itu, aku representasikan sebagai rasa sayang yang sepertinya akan berlangsung selamanya. Aku merasakan jantungmu yang berdetak cepat seperti terus-menerus jatuh cinta. Aku jadi makin senang, sambil membayangkan cinta yang tak akan reda sampai kita menua, dalam satu rumah, bersama anak cucu kita.

Namun ternyata, ya, itu hanya bahasa perpisahan. Ingatan yang setiap jengkalnya menjelma deburan siksaan. Pagi ini, kamu pergi. Meninggalkan rasa percayaku yang sudah terlanjur menancap kokoh.

Pagi ini, kamu hilang, hatiku juga. Aku, tinggallah seonggok daging yang bernyawa.

Post a Comment

0 Comments