Pindah



Pindah rumah, pindah pekerjaan, pindah hati, pindah kebiasaan --segalanya seolah seperti sesuatu yang begitu mudah untuk dilakukan--. Nyatanya, tidak.

Teman saya harus menerima surat PHK terlebih dahulu dari kantor lamanya yang tak sehat sebelum pada akhirnya ia pindah ke kantor yang lebih baik. Sebelumnya, ia ragu meninggalkan kantor lamanya karena tak berani menghadapi dunia luar yang tak betul-betul ia kenal. Bagaimana jika kantor lain lebih buruk daripada kantornya yang sekarang?

Saudara saya harus menerima bukti bahwa suaminya selingkuh terlebih dahulu sebelum pada akhirnya dia menyadari bahwa suaminya memang tak pernah mencintainya, sejak dulu, dan perceraian adalah jalan terbaik. Angkat kaki dari rumah itu.

Teman saya mencintai mantannya, selama bertahun-tahun, dan pada akhirnya memutuskan untuk pindah hati saat mantannya bertunangan dengan lelaki lain.

Rekan saya, bertengkar terlebih dahulu dengan seorang pemilik agensi, sebelum pada akhirnya dia sadar bahwa tidak ada salahnya memulai untuk bikin agensi sendiri, tanpa tekanan partner yang semena-mena.

Ada banyak orang yang tahu kapan saatnya untuk pindah, dan mereka begitu ingin pindah. Mereka sudah tidak tahan berada pada kondisi saat ini. Namun, mereka terlalu takut untuk pindah. Mereka takut akan hal baru. Mereka takut bahwa hal-hal itu akan lebih buruk daripada hal-hal yang mereka miliki sekarang.

Coba tanyakan pada dirimu sendiri : apakah sekarang adalah saat yang tepat bagimu untuk pindah rumah, pindah hati, pindah kantor, pindah nasib, dan sebagainya? Barangkali, akan lebih baik kalau kamu menyadarinya sebelum nasib memaksamu untuk pindah melalui kejadian-kejadian buruk.

Post a Comment

0 Comments