Belajar Setia Kepada Passion Bersama Didi Kempot






Sepuluh tahun yang lalu, siapa yang menyangka bahwa Didi Kempot akan menjadi sosok yang ikonis di Indonesia? Siapa yang menyangka bahwa ada ratusan muda-mudi Jakarta -yang sebagiannya tak bisa berbahasa Jawa- akan menikmati lantunan lirik patah hati dari Didi Kempot? Tidak ada yang menyangka bahwa sajian campursari dari Didi Kempot akan sangat terkenal. Ia bahkan didapuk sebagai brand ambassador sebuah produk e-commerce ternama, berkali-kali membuat konser, dan Juli nanti, rencananya akan membuat konser akbar. Didi Kempot, sejak awal kemunculannya hingga sekarang, tetap setia pada campursari. Sulit menemukan orang yang selalu setia pada sesuatu yang ia yakini. 

Dari Didi Kempot, kita belajar bahwa setia pada passion bisa memberikan kita kebahagiaan sekaligus karier yang baik. Namun, tentu saja setia tidaklah cukup. Kamu harus terus berinovasi. Kamu harus menyesuaikan perkembangan zaman. Kendati menggunakan bahasa Jawa, lirik-lirik Didi Kempot punya relasi kuat terhadap masalah anak muda pada umumnya : patah hati, ditinggal pacar, kelingan mantan, mencintai diam-diam. Begitu mudah dipahami, begitu mudah diresapi. 

Memang, viralnya kembali Didi Kempot beberapa waktu lalu tak bisa dilepaskan dari penggemar setianya, seorang selebtwit dan pengguat media, yang membuat thread menarik tentang beliau. Namun, kalau karier beliau belum kuat sebelumnya, kalau memang musiknya tidak menarik, tak mungkin ia masih bertahan hingga saat ini, hingga ajal menjemputnya.   Belajar dari Didi Kempot, tak ada salahnya setia pada passion-mu. Kejarlah keinginanmu. Jika kamu suka menulis puisi, menulislah. Hanya saja, jangan lupakan riset tentang apa yang orang-orang sukai terkait puisi dan cara seperti apa yang bisa kamu terapkan untuk memasarkannya. Mungkin dengan musikalisasi puisi di Youtube atau IGTV, atau bahkan gunakan TikTok jika perlu. 


Selamat jalan, Mas Didi Prasetyo.

Post a comment

0 Comments