Fetisisme, Mengapa Ia Dianggap Kelainan dan Berbahaya?



Isu fetisisme sebetulnya bukan barang baru lagi. Ia sudah ada  sejak lama dan hadir dalam berbagai macam bentuk. Ia abnormal, tetapi nyata.


Fetisisme sendiri memiliki beberapa makna, tetapi yang akan kita bicarakan di sini adalah perihal fetisisme sebagai sesuatu yang dapat membangkitkan gairah seksual pada seseorang. Bermula dari kasus Gilang Eizan, seorang mahasiswa FIB Universitas Airlangga, ia kembali dibicarakan dan menjadi sebuah masalah serius yang sepertinya harus diperhatikan betul-betul.


Siapa Gilang Eizan, dan Mengapa Kasusnya Menjadi Besar?

Setiap orang memiliki preferensi tertentu dalam membangkitkan gairah seksual. Teman saya, alih-alih menyukai wajah atau dada perempuan, lebih bergairah saat melihat kaki jenjang. Ada kenalan lain yang lebih suka dengan dada perempuan yang bidang dengan bahu yang lebar.


Namun, apa yang saya sebutkan di atas adalah parsialisme dan bukannya fetisisme. Dilansir dari Alodokter, fetisisme sendiri merupakan ketertarikan seksual kepada benda mati. Sementara itu, parsialisme adalah sebuah kondisi saat seseorang menyukai bagian tubuh tertentu. Namun, situs National Library of Medicine mencatat bahwa pemisahan antara fetisisme dan parsialisme sebetulnya tidak diperlukan dan masih diperdebatkan, apakah sebaiknya parsialisme masuk ke dalam salah satu jenis fetisisme ataukah tisak. 


Terlebih, teman-teman saya tidak kelewat terobsesi dengan hal-hal semacam itu, lantas membombardir ruang chat para perempuan dengan request foto kaki atau dada. Ketertarikan pada kaki jenjang dan dada bidang hanya menjadi tolok ukur pada saat mereka memilih pasangan dan berhubungan seks dengan mereka.


Lalu, apa yang salah dari kasus Gilang Eizan?



Gilang menyukai bentuk tubuh lelaki yang dibungkus oleh kain (menyerupai mayat), dan juga jempol kaki. Bisa dibilang, ia menderita fetisisme, sekaligus parsialisme.


Saat fetisisme itu tidak keluar dari ruang privat Gilang, ia tidak akan menjadi sebuah kasus yang begitu besar. Namun, Gilang malah memuaskan fetisisme itu dengan mengirimkan direct message kepada banyak pria, melakukan gaslighting sehingga target merasa bersalah, dan meminta para korban untuk membungkus dirinya dengan kedok riset untuk kampusnya.


Apa yang ia lakukan adalah kekerasan verbal --terlebih dengan penggunaan kata-kata semacam "bodoh" dan pemaksaan untuk minta maaf-- dan juga penipuan. Ini sudah sangat cukup untuk pada akhirnya membuat para korban dan kampusnya, Universitas Airlangga, angkat bicara melalui sebuah surat edaran dan membuatnya terkena hukuman, seperti drop out bahkan hukuman pidana.


Bagaimana Fetisisme Bisa Berbahaya?

American Psychiatry Association sebelumnya sudah memasukkan fetisisme sebagai salah satu Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders (DSM). Pasalnya, fetisisme dianggap memiliki potensi bahaya besar baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

 

Berkaca dari kasus Gilang, ia tidak dapat mengontrol fetisisme-nya. Kondisi itu harus dipuaskan dan pada akhirnya, ia melibatkan banyak orang. Hal yang sama terjadi pada pelaku dengan fetisisme terhadap pakaian dalam seperti yang terjadi di Nganjuk beberapa waktu lalu. Obsesinya terhadap pakaian dalam wanita berbuah pidana karena untuk memuaskannya, ia harus melakukan tindakan pencurian.


Fetisisme dapat terjadi karena beberapa faktor, misalnya seperti trauma masa kecil, kesulitan untuk mengungkapkan perasaan kepada orang lain, dan kebiasaan melampiaskan hasrat pada benda mati yang pada akhirnya menjadi penyimpangan. Penanganan fetisisme bisa dilakukan dengan terapi hormon, konseling, psikoterapi, dan lain sebagainya sesuai anjuran medis. Namun, fokus dari terapi ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan penderita dan membatasi perilaku kriminal.


Jika kamu bersinggungan dengan seseorang yang terkena fetisisme semacam ini, atau malah mengidap fetisisme, secepat mungkin berkonsultasilah terhadap psikolog atau psikiater. 


Post a comment

0 Comments