Kita Dikejar-Kejar oleh Perubahan Teknologi yang Terlalu Terburu-Buru



Saya teringat akan masa saat mendapatkan ponsel berwarna pertama. Saya sangat bahagia. Ponsel itu begitu ajaib, memiliki gim bola yang menarik, memiliki ringtone polifonik yang jernih, dan warna-warna yang cantik. Setelah itu, perkembangan ponsel terjadi dengan begitu cepatnya. Ponsel berkamera mulai muncul. Celetukan teman saya tentang hal itu masih saya simpan dalam kotak memori : kalau pakai hape kamera, ada maling di jalan, bisa langsung difoto buat barang bukti!


Celetukan teman saya menjadi sesuatu yang menarik bagi kami semua. Jika kamera terintegrasi dengan ponsel, semua kejadian bisa dengan mudahnya direkam. Tidak perlu pakai kamera analog. Tidak perlu mencetak foto via negatif. Semua momen bisa dengan mudah diabadikan. 


Semua itu kini sudah terjadi sekarang, bahkan, jauh lebih canggih daripada apa yang pernah dipikirkan oleh teman saya. Jangankan maling, pencuri laki orang saja bisa diabadikan, bahkan dalam video berkualitas tinggi, diunggah di media sosial dalam waktu beberapa detik saja…bum, sedunia tahu.


Kita Terengah-Engah Mengejar Perubahan Teknologi

Ada banyak perubahan di dunia ini, tetapi yang paling nampak adalah perubahan teknologi. Ia mengubah kebiasaan kita, mengubah cara kerja kita, mengubah cara manusia bertahan hidup, mengubah kebiasaan dan tingkat kepuasan.


Belum lama ini, saya mengeluhkan ponsel saya yang RAM-nya cuma 2GB : terlalu berat untuk menyunting di VivaVideo! Teman saya, mengganti ponsel karena ponsel lamanya sudah tidak kuat menahan beban update software.


Dulu, kita begitu puas hanya dengan mendengar rekaman suara beberapa detik di dalam Nokia 3650. Atau main gim di N-Gage. Mendengarkan MP3 di ponsel-ponsel musik. Semuanya terasa ajaib. Lagipula, waktu itu, perkembangan ponsel tidak semasif sekarang. Bentuk-bentuk ponsel pun masih variatif.


Setelah Blackberry tumbang dan Android serta iOs merajai pasar, cepatnya perubahan semakin tak dapat dikendalikan. Dalam satu tahun, ada begitu banyak ponsel yang muncul : fitur-fitur tambahannya tidak selalu dipahami oleh semua orang. Terkadang, tambahannya hanya warna layar, kualitas kamera, atau dapur pacu. Diada-adain, begitu istilahnya, karena revolusi ponsel memang belum ada lagi.


Semenjak Apple merilis iPhone pertama mereka pada tahun 2007, perkembangan ponsel bisa dibilang stagnan. Tidak ada perubahan yang terlalu berarti seperti ketika Nokia atau Blackberry merajai pasar ponsel. Namun, bisa dibilang semenjak saat itu, ponsel bisa menjadi apa saja. Ia adalah versi canggih dari "kotak segala fungsi" milik Doraemon, yang bisa dijadikan telepon, televisi, radio, dan juga kamera.


Apakah kita bahagia? Lebih bahagia daripada teman saya yang dulu membayangkan betapa bahagianya hidup dengan barang bukti? Semua momen bisa direkam, termasuk momen pencurian di jalan, pembunuhan, segala tindak kriminal.


Apakah hidup menjadi lebih mudah? Dalam beberapa aspek, iya. Jarak kini tak terlalu berarti. Orang-orang bisa lebih mudah berkabar. Lebih mudah juga membantu orang lain, misalnya lewat penggalangan dana online. Bisnis pun bisa dilakukan tanpa harus merisaukan jarak.


Apakah membuat kita bahagia? Bisa jadi.


Apakah kita puas? Tidak.



Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Kita selalu mencari alasan untuk menjadi lebih, untuk melawan apa yang membatasi kita. Friedrich Nietzsche pernah mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling ceroboh dari semua jenis hewan, yang paling sakit, dan tidak ada hewan lain selain manusia yang menyimpang dari instingnya.  Namun terlepas dari semua itu, tentu saja, manusia adalah yang paling menarik.


Kita memiliki insting, tetapi kita mencoba untuk mengontrol insting itu. Bahkan, kita mencoba untuk melawan keadaan. Kita tidak pernah puas atas sebuah keadaan yang stagnan. Perubahan itu perlu. Bahkan, banyak yang terobsesi karenanya.


Tentu saja tidak ada yang salah dari perubahan. Hanya saja, perubahan yang terlalu cepat dan dipaksakan demi mengejar keuntungan di luar nalar, terkadang tidak memanusiakan kita.

Post a comment

0 Comments