Tentang Memberi Saran Terkait Pelecehan dan Kekerasan Seksual



Saya membuka berbagai situs wisata luar negeri dan menemukan nasehat "dress modestly --berpakaianlah sederhana--" ketika berwisata ke negara-negara yang dianggap kurang aman, dan merasa bingung : kenapa saya tidak boleh memberikan nasehat yang sama untuk mereduksi kemungkinan perempuan dilecehkan di ruang publik?



Teman saya, beberapa waktu yang lalu, mengeluhkan bahwa seorang temannya, mengalami pelecehan seksual di jalan. "Catcalling", begitu katanya. Saya lantas menjawab begini : "Kapan kejadiannya? Emang parah sih oknum cowok di jalan, suka bikin cewek enggak nyaman."


Lalu, saya melanjutkan, "Kalau aku boleh saran sih, mendingan pasang muka jutek deh, siapa tau enggak digodain.", saya tidak tahu harus memberi saran apa lagi karena yang jelas, saya tidak bisa mengedukasi para pelaku catcalling alias tukang nyuitin di jalan itu. Pertama, saya tidak tahu siapa mereka. Kedua, saya tidak mungkin mencari kediaman mereka seperti yang dilakukan para mafia ala Godfather. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberi saran kepada seseorang yang jelas identitasnya.


Alih-alih menyampaikan, teman saya malah mengkritik saya. Katanya, saya tidak boleh menyalahkan korban. Itulah yang katanya dilakukan oleh dunia patriarki ini. Dan katanya, sebagai perempuan, tidak seharusnya saya mendukung hal itu.


Serba Salah Menyikapi Catcalling

Saran tersebut saya berikan karena bagi saya sendiri, berdasarkan pengalaman, rupanya tameng itu manjur. Setiap kali saya naik KRL, saya tidak pernah digoda, karena saya selalu membayangkan bahwa diri saya adalah mafia galak, karena saya selalu bertampang jutek, karena saya selalu ikut marah jika ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang asal nyerobot, karena saya menghindari tempat sepi, dan yang jelas, saya mawas diri. 


Saya pernah terkena catcalling, waktu itu saya berada di pinggir jalan besar Jakarta Pusat. Digoda oleh mas-mas yang selintas lewat naik motor. Kondisi saya saat itu kebingungan karena belum paham sistem transportasi.


Untungnya, itu pelecehan terakhir yang terjadi kepada saya. Setelah saya memasang muka galak, muka menyebalkan, gestur tubuh minta-diajak-berantem, entah mengapa tidak ada lagi satu pun mas-mas yang melakukan catcalling kepada saya. Di sini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa gestur perempuan lain menunjukkan bahwa ia mudah digoda, tidak. Namun, saya hanya memberikan saran, karena sekali lagi, saya tidak bisa mengontrol orang yang melakukan catcalling. Jadi, saya harus mengontrol diri saya sendiri dan memberikan edukasi kepada orang yang saya kenal.


Apakah Hanya Perempuan Saja yang Berhak Disalahkan?

Saya pernah berbincang dengan seorang pria yang suka membicarakan hal-hal menjurus. Tentu saja, saya kemudian membantahnya dengan pernyataan-pernyataan yang logis, sedikit kasar, kampungan, dengan bahasa yang tidak berat. Kenapa?


Karena, kalau saya membicarakan isu pelecehan seksual dengan bahasa yang berat, orang bodoh seperti pria itu tidak akan paham. Pahamkah dia mengenai konsensus? Tidak. Yang dia pahami hanyalah bahasa seperti, "Kamu orang tolol kalau doyan ngomentarin badan cewek, itu kampungan, apa kamu mau badanmu yang jelek itu dikomentarin? Apa kamu mau di tengah jalan disuit-suitin? Kalau ibumu yang digituin, kamu terima?"


Gerakan anti-patriarki dan anti-pelecehan terhadap perempuan, yang banyak dilakukan oleh kaum-kaum muda, oleh para anak Twitter dan Instagram yang fasih berbahasa Inggris-Jakarta Selatan itu nampaknya tidak akan sepenuhnya berhasil. Mengapa? Karena, pelaku pelecehan seksual tidak hanya berasal dari kalangan atas yang memahami kata-kata berat.


Pelaku pelecehan seksual di jalanan, yang selama ini saya temui, yang kasusnya sering saya dengar, banyak dilakukan oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka nongkrong di jalan, sambil merokok, lalu nyuit-nyuitin cewek. Mereka kadang naik motor bertiga sambil meneriaki cewek yang menurut mereka cantik.


Akankah orang-orang ini paham mengenai women's march? Konsensus? Istilah catcalling? Tidak.


Teman saya, seorang psikolog, pernah melakukan penelitian untuk tugas kuliahnya di sebuah daerah di salah satu kota satelitnya Jakarta. Saat melakukan wawancara terkait masalah pelecehan seksual, ia mendapati fakta bahwa banyak pria di daerah tersebut yang menganggap bahwa untuk meraih hati perempuan, mereka harus menggodanya. Mereka tidak paham kalau menggoda perempuan akan membuat para perempuan menjadi tidak nyaman.


Mereka juga tidak memahami istilah-istilah terkait gender dan pelecehan. Yang mereka ketahui adalah bagaimana cara membuat perempuan di kampung terkesima. Misalnya, dengan menaiki motor tertentu, lalu menggodanya.


Jadi, terkait hal ini, saya tidak yakin betul bahwa : kampanye yang hanya dilakukan di media sosial dengan bahasa yang rumit berhasil. Saya juga yakin pentingnya melakukan tindakan preventif seperti berpakaian sesuai lokasi, hindari jalan sepi, dan jangan pernah punya pikiran kosong kalau sedang berada di luar. Tindakan preventif ini kurang lebih sama dengan tindakan preventif yang harus kamu lakukan supaya tidak digendam orang di jalan dan harta bendamu dicuri.


Terakhir, saya muak sekali dengan tanggapan : jangan salahkan korban setiap kali kita memberikan solusi untuk korban. Apakah memberikan korban trik untuk setidaknya menghindari catcalling adalah sebuah kesalahan? Apakah jika kita menyalahkan pelaku catcalling sekaligus memberikan solusi adalah hal yang sangat patriarki? Kalau kita selalu berputar-putar di sana, ditambah pakai bahasa super berat campuran Inggris dengan sedikit istilah hukum berbahasa Latin, undang-undang yang sakti pun tidak akan bisa menyelesaikannya.

Post a comment

0 Comments