[Fiksi] Tentang Tita



Kekasihku, Dani,  selama tiga tahun tidak pernah bisa melupakan mantannya saat kuliah dulu. Kebetulan, mantannya ini sudah menikah dengan seorang pria kaya, mapan, dan punya kedudukan tinggi di perusahaan. Tidak ada lagi tempat untuk Dani.


Mantannya itu, dibandingkan aku, sebetulnya tidak begitu spesial. Latar belakang kami sama, kecantikan 0pentah kenapa ia memiliki sesuatu yang bisa membuat banyak pria bertekuk lutut (pelet? Entahlah). 


Aku pernah melihat beberapa blog lama suamiku yang hanya berisi tentang kisah patah hatinya dengan perempuan itu. Ia mencintainya karena..perempuan itu tidak membosankan. Ia punya pergaulan luas. Ia memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Dan ia..seringkali terlihat seperti tidak membutuhkan pria.


Aku ingin menjadi seperti perempuan itu, tetapi aku tidak pernah bisa. Aku adalah perempuan yang jika mencinta, akan berlaku baik dan manis kepada seorang pria. Aku sering merasa sakit hati jika mengingat bahwa kekasihku sebetulnya masih menaruh rasa kepada perempuan itu. Namun, rasa sakit itu kukesampingkan karena sebetulnya, kekasihku tidak bermaksud untuk menyakitiku. Ia toh pergi ke psikolog agar bisa melupakan kekasihnya, bukankah itu baik?


****

Namun, terkadang saat suasana hatiku memburuk, aku merasa sangat hina dan terus menerus mengatai diriku sendiri. Apalagi, ketika saat kami mendatangi tempat-tempat yang pernah didatangi Dani dan mantan kekasihnya. Dani akan terlihat melankolis, matanya akan menerawang jauh entah ke mana, yang jelas tidak melihatku. Ketika kudesak ia untuk bercerita, ia akan menyebutkan nama itu lagi : Tita.


Sungguh aku kesal kepada Tita, ingin mendoakan segala yang terburuk kepada perempuan itu karena ia jahat! Ia membuat Dani trauma dan aku yang kini harus ikut menanggungnya.


Terlepas dari segala kesempurnaan yang ada di permukaan, Tita adalah perempuan yang jahat. Ia tidak punya perasaan. Ia bisa memanfaatkan seorang pria dengan membuat pria itu merasa dicintai, kemudian ia tinggalkan tanpa rasa bersalah. Dani merasa sakit hati karena setelah banyak uang dan bantuan tugas kuliah ia berikan, Tita meninggalkannya begitu saja karena terpincut seorang lelaki mapan yang berusia 10 tahun lebih tua daripada dia.


Namun, pria itu tidak dia nikahi. Ia kemudian melabuhkan hati pada seorang pria yang sama mapannya dan punya karier cemerlang. Mereka menikah dan hati Dani hancur, padahal ia sudah bersamaku.


Aku pernah bertanya kepadanya adakah hal yang bisa aku lakukan untuk bisa membuatnya melupakan Tita. Ia menjawab bahwa psikolog pun susah untuk membantunya melupakan trauma.


*** 

"Kamu bodoh banget deh Fani. Cowok kayak gitu masih dipertahankan.".

Sahabatku, Alya, selalu geram dengan Dani. Menurutnya, apa yang dirasakan Dani sudah tidak bisa ditolerir lagi.

"Tapi dia baik, kok, terlepas dari masalah Tita ini. Dia rajin banget, bertanggung jawab, sopan, nggak pernah jahat sama aku, selalu ingat ulang tahunku.."

"Ya percuma kalau belum bisa ngelupain Tita bahkan suka ngungkit-ngungkit di depanmu.."

"Itu minor kali, Ya…"

"Minor-minor juga kamu sakit hati. Nggak etis tau nggak sok-sok belum move-on di depanmu. Emang nggak niat melupakan aja dia.."

Apakah benar?

Aku selalu kesal dengan pendapat Alya. Pendapatnya tidak bisa mendinginkan kepala dan hatiku. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa bahwa apa yang ia katakan itu benar.

***

Suatu hari, aku bertengkar dengan Dani. Aku merasa beban kerjaku begitu berat, ditambah dia tak benar-benar mendengarkan keluh-kesahku dan kembali menghubungkan banyak hal dengan Tita.


"Kayaknya nggak semua hal ada hubungannya sama Tita deh, Dan."

"Kamu kan minta pendapat, ya aku ceritakan sesuai pengalaman."

"Apa pengalamanmu harus ada hubungannya sama Tita? Lagian, kamu kok tahu? Kamu masih kepo dia, ya?"

Ia tidak menjawab.

"Ya udahlah, memang kamu masih cinta, kok."

Ia menggeleng, "Nggak ya Fan. Aku cuma trauma..maksudnya, aku dan dia pacaran lama banget, wajar kan nggak bisa lupa? Lagian aku nggak selingkuh lho."

Aku tertawa kecil dan tidak bicara apa-apa lagi.

***

Kini, aku sampai pada fase di mana aku tidak bisa mencintai Dani dengan tulus dan aku begitu membenci Tita.


Tuhan, kenapa sih tidak adil? Tita, perempuan tukang manfaatin lelaki, diberi segala kesempurnaan di dalam hidup? Kulitnya mulus, semulus kariernya. Ia sudah berada pada level manajer sementara di kantor lain yang tidak sekeren kantornya, aku masih menjabat sebagai staf biasa. Pengikut di Instagramnya mencapai lima belas ribu dan ia kerap mengisi beberapa seminar! Pesta pernikahannya di ibukota digelar begitu indah, di sebuah hotel yang sangat mewah!


Ia juga berteman dengan berbagai selebgram tenar, sementara aku? Pertemananku biasa saja. Pernikahanku? Dani tidak kunjung melamarku, alasannya adalah karier. Namun, aku merasa bahwa ia tidak siap saja menikahiku.


Lagipula, setelah dipikir-pikir lagi, di awal kami pacaran, Dani kerap kali membandingkan aku dengan Tita.


"Dulu, Tita itu nggak suka ngeluh…"

"Aku dan Tita sama-sama suka steak salmon, sih.."

"Kalau Tita, dia mah berani ngomong sama orang…"

Dan sebagainya. Dan sebagainya. Dan sebagainya.


Dani kerap kali mengatakan bahwa ia mencoba jujur denganku. Bahwa ia hanya ingin aku mengetahui apa yang dia inginkan dan bagaimana supaya ia bisa melupakan itu. Namun, tolong beritahu aku : apakah itu adil? Aku tidak tahu. Yang ada di dalam pikiranku hanyalah menjadi lebih baik daripada Tita karena aku tidak bisa meninggalkan Dani! Aku terlalu mencintainya!


***

Pada suatu hari, cintaku tidak kunjung habis kepada Dani. Namun tidak dengan kesabaranku.


Aku tidak berniat untuk memutuskan Dani, karena sekali lagi, aku mencintainya. Aku bermaksud untuk menghubungi Tita lewat akun media sosialnya, mempertanyakan apa yang telah dia lakukan sampai Dani bisa mencintainya begitu lama dan kekal.


Namun, sebelum aku sempat untuk menghubunginya, tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu dari temanku. Itu terjadi di sebuah siang yang biasa-biasa saja, yang tidak spesial, bahkan pertanda dari alam pun tidak ada.


"Kamu udah tahu belum, si Tita, iya, Titanya Dani…."


Pesan itu berisi sebuah kabar yang mengejutkan. Bahwa Tita sedang dalam proses perceraian dan video perselingkuhannya dengan atasannya tersebar luas. Ini membuka tabir mengapa selama ini Tita gampang naik jabatan, mengapa selama ini begitu mudah baginya mendapatkan karier yang baik dan kenalan orang-orang keren di mana-mana.


Dani terkejut mendengar kabar tersebut dan ia bilang ia butuh waktu seharian. Aku mendiamkannya karena kupikir, hal tersebut benar-benar tak disangka. Dani bahkan bilang bahwa Tita dulu tidak pernah seperti itu.


Keesokan harinya, Dani menemuiku. Wajahnya lebih cerah daripada biasanya. Daripada tiga tahun yang telah dilewati bersamaku. Katanya begini :


"Aku sudah tidak ada rasa lagi sama Tita."


Seharusnya aku bahagia. Namun, entah kenapa ada yang mengganjal di hatiku. Aku rasa, aku pun tidak ada rasa lagi dengan Dani.


"Mungkin kita harus putus dan mempertanyakan apa yang sebenarnya kita inginkan masing-masing."


Tentu saja aku tidak ingin dicintai hanya karena seseorang di masa lalunya tiba-tiba memiliki cacat.

Post a Comment

0 Comments