Fenomena Generasi Sampo Korea Selatan, Generasi yang Menolak Pernikahan

 


Pernah bertanya-tanya di dalam hati : mengapa sih ada banyak selebritas Korea Selatan yang tidak menikah hingga usia paruh baya?

Ada dua kemungkinan : selebritas tersebut menyembunyikan hubungannya atau mereka memang enggan menikah.

Salah satu fenonema yang terjadi di Korea Selatan adalah fenomena generasi sampo.  Istilah 'sampo' sendiri jauh berbeda dengan 'sampo' yang biasa kita gunakan saat keramas.

Generasi sampo (sampo sedae/ 삼포세대 ) mengacu kepada generasi yang menghindari tiga hal : kencan, pernikahan, dan memiliki anak. Istilah ini mulai santer terdengar pada tahun 2010.

Dilansir dari BBC, rata-rata wanita Korea Selatan hanya memiliki 1,1 anak. Padahal, rata-rata global adalah 2,5 anak. Kenapa, ya?

Apakah kamu pernah menonton film Kim Ji-Young, Born 1982? Salah satu alasannya ada di situ. Setelah menikah, mayoritas perempuan Korea Selatan akan mengabdi kepada rumah tangga. Ini belum ditambah dengan intervensi dari mertua. Film ini, menimbulkan kontroversi, lho. Ini menunjukkan kalau budaya itu memang benar adanya.

Maka dari itu, orang tua yang kolot cenderung senang kalau memiliki anak laki-laki. Anak laki-laki dianggap bisa mencari uang di masa depan. Sementara itu, perempuan hanya akan berada di dalam rumah, tidak bisa menghasilkan uang untuk orang tua di hari tua.

Namun, alasan mengapa mereka menghindari tiga hal tersebut bukan hanya karena budaya patriarki, lho. Semakin langkanya perumahan, biaya hidup yang semakin tinggi, bahkan persaingan yang semakin besar membuat mereka takut untuk pacaran, menikah, dan memiliki anak. 

Gaya hidup modern pun memberikan pengaruh terhadap persepsi terkait pernikahan. Kebanyakan masyarakat modern menganggap bahwa pernikahan akan membuat kehidupan mereka "menghilang".

Sementara itu, pengaruh budaya kerja lebih mempengaruhi persepsi banyak perempuan untuk tidak menikah. Tekanan kerja dan intimidasi kepada perempuan yang akan menikah kerap dialami (walaupun tidak semua perusahaan melakukan hal itu).

Sebetulnya, pilihan untuk menikah dan memiliki anak adalah hak masing-masing orang. Namun, negara tentu akan cemas apabila sebagian besar rakyatnya tidak mau memiliki keturunan. Hal tersebut akan menimbulkan masalah populasi.

Ada beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah dan pihak-pihak lain untuk meningkatkan minat masyarakat akan perkawinan, mulai dari kursus perkawinan, hingga biro jodoh yang mengelompokkan para anggota berdasarkan latar belakang keluarga, pekerjaan, bahkan tingkat pendidikan.

Kursus Perkawinan yang Unik
Di dalam kursus perkawinan ini, para peserta diajarkan untuk berkencan dan diberi ilmu mengenai hubungan. Memang cukup membantu, tetapi belum signifikan mendongkrak tingkat pernikahan di Korea Selatan.

Jika keadaan ini tidak diatasi, PBB bahkan memperkirakan pada tahun 2100, jumlah populasi penduduk di Korea Selatan hanya berkisar 21 juta orang saja. 


Punya kisah untuk diterbitkan? Terbitkan bukumu bersama Graf, cek paketnya di www.graflit.com




Post a Comment

0 Comments