Kita Terlalu Terbuai dengan Kisah-Kisah Kepahlawanan




Saat kecil, kebanyakan manusia disuguhi dengan cerita-cerita kepahlawanan, baik dalam bentuk sejarah maupun kisah fiktif. Sebuah hal yang wajar, mengingat penting bagi anak-anak untuk mendapatkan asupan tontonan yang membangun nilai-nilai positif di dalam diri mereka. Anak yang baru lahir seperti Tabula Rasa, alias kertas putih kosong. Mengisinya dengan berbagai nilai-nilai yang bermanfaat dan membangun akan sangat berguna untuk membentuk mereka menjadi seorang manusia yang tidak merugikan orang lain.

Namun, seiring dengan berkembangnya usia, seharusnya hadir filter-filter di dalam pikiran manusia yang membantunya untuk bertindak realistis dan membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang bijak untuk dilakukan dan dipikirkan. Ada banyak manusia yang masih terseret oleh mimpi tentang keberadaan seorang hero, pahlawan super, pembela kebajikan, melawan tirani tanpa ada maksud khusus.

Kualitas-kualitas itu ada pada tokoh seperti Zorro, Captain America, dan Wiro Sableng.

Melihat kisah-kisah tentang pahlawan super akan membuat kita merasa bahwa kita dilindungi. Bahwa di dunia yang penuh tipuan dan kejahatan ini, ada sosok-sosok pemberani yang membela kebajikan. Membela orang-orang yang lemah.

Sayangnya, itu adalah mimpi masa kecil saja.


Ada banyak jenis manusia di dunia ini. Ada yang memiliki belas kasihan tinggi. Ada pula yang tak peduli dengan orang lain. Mereka yang memiliki belas kasihan, ada yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Namun, kebanyakan, tidak bukan?

Sudah sangat banyak bukti di mana mereka yang pernah berkoar-koar membela rakyat kecil, membela kepentingan banyak orang, nyatanya ketika mendapatkan jabatan, seolah lupa segalanya. Sudah banyak pula cerita di mana mereka yang berdalih sebagai pahlawan, berkata bahwa mereka membela banyak orang, ternyata memiliki agenda khusus yang sangat egois dan tak peduli-peduli amat terhadap mereka yang katanya mereka bela.


Pada dasarnya, meskipun merupakan makhluk sosial, manusia adalah makhluk yang memiliki ego. Mereka memiliki pertahanan diri, mereka memiliki prioritas, mereka memiliki emosi-emosi dan hasrat. Seseorang dengan belas kasihan tinggi, bisa jadi tidak akan sempat menjadi "pahlawan" super ketika dia memiliki power, karena pada akhirnya, ia berpikir bahwa mengubah dunia menjadi lebih baik ternyata merepotkan. Urusan-urusannya sendiri belum selesai, untuk apa terus-menerus menjadi seseorang yang altruistis? Seperti kata Ramon Fonseca di dalam film The Laundromat:

Saving the world, as it turns out, is very hard, you know? Long hours, bad pay, and perhaps the world does not want to be saved. Inside all of us, there are packs of wolves, some flocks of sheep roaming through our thoughts. We want to be fair, and yet, we want to win. We want to be righteous, but we want to get ahead. Such is our struggle. Uh, at some point, you decide it might just be easier to save yourself. So, I became a lawyer for the not-so-meek.

Faktanya juga, belum tentu orang yang dibantu layak untuk dibantu. Bantuan terus-menerus yang tidak sesuai tempat justru malah membuat seseorang menjadi malas.

Pada akhirnya, ini bukan dunia sinematik pahlawan super. Ini juga bukan dunia imajinasi di mana ada seorang Gandalf atau Aragorn yang sepenuhnya rela buat berkorban. Orang-orang yang seolah terlihat heroik, biasanya sama sekali jauh dari kualitas seperti itu.

Selalu ada yang rela berkorban dan memiliki kebaikan. Namun, hal itu terjadi lantaran beberapa hal:
1. Mereka sudah mendapatkan kemapanan sehingga bisa membantu orang lain dengan lega
2. Mereka takut
3. Mereka punya komitmen
4. Mereka punya empati yang besar karena sebelumnya pernah ada di posisi itu.

Lagipula, jika kamu berharap bahwa di dunia ini ada pahlawan super, apakah kamu sudah memenuhi kelayakan sebagai seseorang yang baik? Tidak akan pernah ada pahlawan super di tengah masyarakat yang begitu 'sakit' dan penuh tipu daya media sosial selama ini. Yang tersisa hanyalah pihak-pihak penuh pencitraan.

Post a Comment

0 Comments