Perempuan yang Kutemui di Bus



Aku sedang berlibur di sebuah tempat dan memutuskan untuk menaiki bis keliling kota. Ketika aku masuk, hanya ada dua orang di sana : sopir dan seorang wanita di tempat duduk paling belakang. Aku tidak tahu mengapa bus ini sepi sekali, padahal ini siang hari. Mungkin orang-orang sibuk bekerja dan hanya aku yang menjadi turis. Sebagai seorang pria yang jomlo, instingku menyuruh untuk duduk mendekatinya. Ia menatapku sekilas, tanpa senyum. Wajahnya sedikit dingin, kurang bersahabat. Namun, ada hal yang menarik di sana. Aku seperti ingin menyelami dirinya lebih dalam. 

"Hi!", sapaku dengan sederhana. Ia tersenyum tipis. Begitu memesona kulihat. Kemudian, aku meminta izin apakah aku boleh duduk di dekatnya. Ia mengiyakan. 

Kami berdua sempat diliputi keheningan dalam beberapa menit. Ia terus-menerus memandang ke arah jendela. Kuputuskan untuk membuka obrolan. 

"Aku turis. Sendirian. Kota ini menarik, dan aku pikir, tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan berkeliling tanpa arah." 

"Turis? Menarik!", kulihat binar di matanya. "Kota ini memang bagus. Namun, hanya untuk jalan-jalan. Kalau untuk hidup, kita dibuat seperti robot." 

"Ya. Setiap hal hanya indah kalau dinikmati sekejap saja. Jika terus menerus berada di dalamnya, kita akan mencapai titik kemuakan. Manusia memang begitu. Dalam cinta pun begitu. Yah, seperti yang kualami. Haha." 

Aku tidak menyangka bahwa aku bisa bercerita begitu lancar kepada gadis yang baru kutemui. Rasanya, ia seperti membuka keberanianku untuk menjadi jujur..

Baca juga : Tentang Tita

Aku berkata kepadanya bahwa di tempat asalku, aku bekerja di bagian QC atau Quality Control. Pekerjaan yang sangat monoton, membutuhkan ketelitian, dan menyebabkan kepala meledak. Liburan tanpa rencana membuatku merasa lebih rileks karena tidak harus berkutat pada standar dan aturan. Perempuan itu, rupanya bekerja sebagai auditor. Ha! Pekerjaan yang sama-sama melelahkan dan membutuhkan konsentrasi tinggi. 

Ia berkata bahwa sudah biasa pulang larut malam. Kemudian, aku bertanya kepadanya : siang-siang begini, kamu tidak di kantor?


Ia menatapku tertegun. Aku pun terkejut kepada diriku sendiri. Tiba-tiba, aku seperti seorang motivator andal. Padahal, selama ini aku juga kerap terikat dengan pekerjaanku dan kerap membawa pekerjaan saat berlibur. 

"Terima kasih. Kata-katamu sepertinya akan mengubah hidup dan matiku "
"Hah?". 

Belum selesai aku bertanya kepadanya, tiba-tiba sopir bus berteriak : "Tidak mau turun di sini? Ada objek wisata yang sangat bagus. Kamu pasti suka. Nanti, tinggal ambil bus lain saja. Ada banyak yang lewat." 

Ini pertama kalinya ada sopir bus yang begitu memahami kebutuhan turis tanpa diminta. Karena aku sedang berjalan-jalan tanpa tujuan, aku pun memutuskan buat turun. Namun, sebelumnya aku memutuskan buat nekat meminta nomor telepon gadis itu.




















"Maaf, tapi sepertinya kita tidak akan bertemu lagi", begitu jawabnya saat aku meminta nomor telepon dan namanya. Aku tersenyum kecut. Mungkin aku lancang, karena sepertinya orang-orang di sini sedikit cuek. Mungkin juga ia tidak tertarik kepadaku. Yasudahlah, lagipula hubungan jarak jauh mungkin tidak berhasil. 

Aku berpamitan padanya dan berterima kasih kepada sopir bus, kemudian turun. Udara agak panas dan ada banyak orang berlalu lalang. Aku menatap ke arah jendela dan melihat gadis itu tersenyum kepadaku. 

Sebelum berjalan ke tempat wisata, aku duduk di halte untuk mengambil minum dan ponsel di tas. Ada pesan yang sepertinya harus kubalas. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh tepukan bahu dari seorang pria paruh baya. 

"Apa kamu yakin kamu tidak apa-apa?"
"Ya? Bagaimana?"
"Daritadi kamu berbicara sendiri."





Oke, ini gila. 
"Maksud Anda apa? Saya baru saja turun dari bus."
Ia terdiam sejenak. Wajahnya pucat. "Sebaiknya naik MRT saja. Atau naik taksi. Tidak perlu naik bus ke sini pada hari Selasa. Ini untuk kebaikanmu, karena kecelakaan bus tiga tahun lalu kabarnya membuat penumpang dan pengemudinya tidak tenang. Kalau tidak salah, hanya ada satu supir dan satu penumpang. Maka dari itu, bus hari Selasa tidak pernah ramai." 

Aku terduduk lemas. Agak kesulitan bernapas. Kuteguk kembali air mineral di dalam genggamanku dan aku melihat keramaian di sekitar. Ya, aku tidak akan pernah bertemu dengan gadis itu lagi, karena ia tidak hidup di dimensi yang sama denganku.

Post a Comment

0 Comments