Mengapa Hari Ibu Berlangsung Pada Tanggal 22 Desember?



Mengapa Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember?

Rupanya, ini bermula dari Kongres Perempuan pertama yang diadakan di Yogyakarta, lebih tepatnya Ndalem Joyodipuran. Ratusan perempuan dari berbagai organisasi datang ke sana, mulai dari Wanita Oetama, Sarekat Islam, sampai dengan Wanita Katolik dan Aisyiyah. 
Bukan hanya organisasi perempuan, organisasi pemuda juga hadir lho ke kongres itu, seperti perwakilan Boedi Oetomo misalnya.

Kongres tersebut dipimpin oleh R.A Soekonto. Dilansir dari buku Kongres Perempuan Pertama : Tinjauan Ulang karya Susan Blackburn, R.A Soekonto menekankan betapa pentingnya persamaan derajat perempuan dan lelaki. Wanita tidak harus menjadi lelaki, tetapi menjadi setara.

Kongres tersebut bukannya tidak diiringi debat. Sempat ada debat kecil dalam kongres, terutama saat membahas poligami terhadap perempuan. Ada yang setuju, dan banyak yang tak setuju. 
Dilansir dari Historia, perdebatan usai pada saat Nyonya Siti Zahra Goenawan, perwakilan Roekoen Wanodijo, melerai. Pada akhirnya, pembahasan poligami tidak dilanjutkan.
Kongres ditutup dengan tuntutan kepada pemerintah kolonial supaya sekolah untuk anak perempuan ditingkatkan, pertolongan janda serta anak yatim dan piatu bagi pegawai sipil, serta transparansi taklik kepada para wanita jelang pernikahan. 
Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu usai ditetapkannya dekrit oleh Presiden Soekarno tahun 1953.

Selain perjuangan perempuan yang sudah menjadi ibu, Hari Ibu juga rupanya mengandung makna bahwa siapa pun dan apa pun identitas perempuan, hendaknya ia dihargai dan diperlakukan setara. Karena baik perempuan dan lelaki, keduanya memiliki tugas masing-masing dan harus saling melengkapi. Setuju?

Mau menerbitkan buku ber-ISBN mulai dari Rp30.000,00? Buka www.graflit.com sekarang juga atau hubungi kami via WA +6281317450195

Post a Comment

0 Comments