Dari Eiger hingga Seoul dan Bagaimana Media Sosial Menghubungkanmu dengan Si Picik


Kamu tentu sudah mendengar kasus Eiger, di mana pihak legal mengeluarkan surat teguran keras kepada seorang Youtuber karena review produk mereka tidak sesuai dengan standar Eiger. Yang menjadi masalah besar adalah bahwa Youtuber itu mengulas produk Eiger atas keinginannya sendiri dan tidak dibayar sama sekali oleh pihak Eiger.


Perilaku oknum legal Eiger yang menyebalkan ini bukan pertama kali terjadi. Tertangkap layar oleh warganet komentar dari pihak legal (secara individual) yang kerap mengkritik Youtuber yang menurut mereka, mengulas Eiger dengan cara yang kurang sesuai standar.


Perilaku oknum legal Eiger ini memang tidak bisa dibenarkan, bukan? Dilihat dari sisi public relation, ini adalah sebuah aib. Dilihat dari sisi etika pun buruk sekali. Para Youtuber tersebut bahkan tidak menjelek-jelekkan Eiger dan tidak dibayar untuk membuat video dengan standar tertentu.


Efek Buruk Media Sosial, Ketika Semua Hal Mudah Dijangkau

Pertumbuhan media sosial yang semakin masif membuat semua orang terkoneksi. Sepuluh tahun lalu, kamu bahkan tidak akan menyangka bahwa semudah itu berhubungan dengan seorang selebritas melalui fitur komen atau melihat seluruh aktivitas mereka.


Pertumbuhan media sosial juga membuka lapangan pekerjaan dan memberikan kita cara untuk bertahan hidup di era pandemi. Bisa dibayangkan betapa buruk keadaan jadinya apabila pandemi muncul dua puluh tahun yang lalu. Tentu kemunduran ekonomi akan lebih terasa dan semua bidang morat-marit. Dengan internet, setidaknya kita bisa mengontrol beberapa hal dan saling terkoneksi meski tak bisa berkumpul.


Namun, pertumbuhan ini bukannya tanpa efek. Menengok kasus Eiger, pertumbuhan media sosial seperti mencengkeram kebebasan banyak orang. Bayangkan, para pengguna Eiger mengunggah video ulasan mereka tanpa alasan khusus, kecuali tentu untuk berbagi kepada para pengguna Internet. Namun, semudah itu bagi mereka ditemukan oknum legal Eiger yang pada akhirnya mengintimidasi lewat komentar bahkan surat teguran.


Kasus ini mengingatkan kita pada kisah seorang pria yang mengabadikan video Jakarta pusat yang dianggap "rasa Seoul". Pembuat video berkarya dengan baik, dengan maksud yang juga mulia serta pantas diapresiasi. Penyebarnya, yang kemudian memberi kutipan "Jakarta rasa Seoul", juga menunjukkan apresiasi positif. Namun, memang dasar beberapa oknum Twitter selalu sok pinter dan sok kritis, seperti misalnya seorang selebtwit yang memang meraup pengikut dari cercaan kepada banyak orang. Jadilah kutipan dan video itu dihardik, dianggap tidak peka terhadap sisi Jakarta lain yang kumuh, padahal apa salahnya mengabadikan salah satu sisi Jakarta yang indah, seperti layaknya mengabadikan sisi Tokyo yang Indah di Tokyo Tower, Paris dengan La Tour Eiffel-nya, atau Dubai dengan Burj Khalifa? Kota-kota yang barusan saya sebutkan itu bukannya tidak punya tempat kumuh. Mereka punya, dan sudah dibahas, tetapi bukan berarti tidak ada orang yang boleh menunjukkan sisi manisnya.


Media sosial, memang pada akhirnya mendekatkan kita, memperbesar peluang untuk mengekspresikan renjana, mendapatkan pekerjaan, bertemu kawan lama, dan bersilaturahmi. Namun, perlu diingat bahwa ia rupanya juga mendekatkan kita kepada orang-orang yang berpikiran sempit. Mereka ada di dunia ini.



Post a Comment

0 Comments