Apakah Edukasi Hanya Tentang Kampus?

Ketika berbincang mengenai kata 'teredukasi', apa yang kamu pikirkan? Apakah itu tentang seseorang yang memiliki gelar tinggi? Lulusan kampus ternama? Nyatanya, makna edukasi jauh melampaui hal itu.


Saya akan bercerita mengenai pengalaman saya sendiri. Bisa saja sama dengan apa yang pernah kamu alami, tetapi bisa saja berbeda.


Saya memiliki kenalan, seorang lulusan sarjana strata 1 dari kampus yang ternama. Jurusannya adalah jurusan yang keketatannya tinggi. Tidak mudah untuk memasuki jurusan tersebut. Namun, ketika lulus, ia justru menyia-nyiakan pekerjaan pertamanya. Ia keluar saat pekerjaan itu banyak lemburnya dan kemudian menganggur, bermimpi mencari kesempatan untuk bisa menjadi pengusaha. Sebut saja kenalan saya itu Rudi.


Kemudian, mari berkenalan dengan kawan saya yang satu lagi. Ia adalah lulusan D3 dari kampus yang biasa saja. Kampus ini bukan kampus negeri. Ia sudah bekerja di semester akhir, kemudian kariernya semakin meroket saat ia lulus. Sekarang, ia menempati posisi menarik di perusahaan tempat ia bekerja dan bisa melunasi rumahnya sendiri. Namanya Dodi, sebut saja begitu.


Pelajaran apa yang bisa diambil dari sana? Tidak, saya tidak mau memberikan kesan bahwa kampus ternama belum tentu melahirkan lulusan baik. Kalimat itu bisa jadi benar adanya, tetapi terlalu klise. 


Saya akan mengajak kamu menyelami kehidupan Rudi dan Dodi.


Rudi tumbuh di kampung di mana ia banyak melihat pria yang bermalas-malasan. Saat SMP, ia terjebak pada teman-teman yang hobi mabuk diam-diam. Ia juga menganggap bahwa pria yang menganggur dengan istri yang bekerja itu biasa saja. Menganggurnya bukan menganggur karena mengurus rumah tangga, tetapi karena memang pria-pria itu pemalas. Saat SMA, ia berteman dengan kawan-kawan yang hobi bolos dan merokok diam-diam di area sekolah. Beruntung Rudi pintar sehingga ia bisa masuk ke kampus ternama.


Namun, pengalaman-pengalaman Rudi, tumbuh di lingkungan 'pria pemalas', adalah apa yang berpotensi membentuk Rudi menjadi sosok pria semacam itu. Ia bisa saja merupakan lulusan kampus ternama. Ia mudah mendapatkan pekerjaan. Namun, apakah ia merasa bahwa ia harus berusaha keras? Ia asal-asalan. Ia bahkan berani bermimpi untuk menjadi pengusaha, tetapi lupa bahwa usaha membutuhkan modal dan pengalaman.


Bagaimana dengan Dodi? Sedari kecil, Dodi dikelilingi oleh pria-pria yang bertanggung jawab. Saat remaja, ia berteman dengan kawan-kawan yang rajin, tidak melakukan kenakalan remaja. Dodi pun tumbuh dengan meyakini bahwa pria memang seharusnya seperti itu. Harus bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.



Lingkungan adalah Media Edukasi



Jika kamu berpikir bahwa mereka yang punya gelar pastinya educated alias teredukasi, kamu salah besar. Edukasi itu ada di mana-mana. Ia tidak hanya berasal dari kampus, tetapi dari lingkungan. Siapa kawanmu, siapa teman mainmu, pengaruh apa yang kamu sukai, bagaimana orang tuamu membesarkanmu, bagaimana lingkungan rumahmu, semua adalah bentuk edukasi.


Untuk itu, apabila kamu adalah orang tua, didiklah anakmu dengan bijak. Berikanlah contoh dan pengaruh yang baik agar ia dapat bertanggung jawab terlebih dahulu kepada dirinya sendiri. Dengan begitu, ia dapat bertanggung jawab kepada orang lain dan lingkungannya.


Apabila kamu adalah remaja, pilihlah teman bermain yang baik. Jangan takut dianggap cupu. Apa gunanya anggapan jika itu hanya merusakmu?


Jika kamu memilih pacar, pilihlah yang dapat membentukmu menjadi pribadi yang baik. Jangan buang-buang waktu untuk kekasih yang menghancurkan.


Apabila kamu anak kuliahan, pilihlah teman-teman yang membantu kamu untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Jauhi teman pemalas, teman dengan pengaruh buruk, dan teman yang mengajakmu untuk menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.


Edukasi ada di mana-mana. Jadilah orang yang teredukasi dengan memilih pilihan-pilihan bijak di dalam hidupmu.


Mau menerbitkan cerita yang menarik? Terbitkan bersama Graf Literasi sekarang juga!

Post a Comment

0 Comments