SBMPTN, SNMPTN, dan Cerita Putus dengan Kekasihku

Sebuah tulisan tentang kisah cintaku, SBMPTN, SNMPTN, dan jalur mandiri pada tahun 2021.


Hubunganku dan pacar nampaknya akan berakhir dalam beberapa hari ke depan.


Pacarku adalah anak dari keluarga yang sangat berada. Ia dapat memilih kampus apa pun yang ia inginkan. Maksudnya, ia pintar dan orang tuanya punya sumber daya uang untuk memasukkannya dalam jalur apa pun. Ia punya kesempatan, aku tidak terlalu, itu bedanya.


Aku tidak menyalahkan kampus yang mematok harga mahal untuk jalur tertentu. Mungkin, begitu cara mereka untuk mempertahankan mutu atau entahlah. Aku juga tidak ingin menyalahkan orang yang berhasil masuk lewat jalur-jalur mahal itu. Toh, mereka juga melewati serangkaian tes.


Aku hanya merasa bahwa dunia tidak adil ketika orang tua dari pacarku menyuruh kami untuk putus agar pacarku bisa fokus untuk berkuliah. Lagipula, akan ada banyak pilihan perempuan yang lebih baik baginya di kampus negeri yang ia masuki. Selain itu, belum ada kepastian aku akan berkuliah di mana. Kupikir, track record-ku sebagai anak yang tidak terlalu pintar membuat orang tua pacarku meng-underestimate aku.


Tidak Ada yang Salah dengan Menjadi Kaya, yang Salah Adalah…

Aku tidak pernah menyalahkan kekasihku karena ia memiliki banyak pilihan dan bisa membayar apa saja. Aku hanya kecewa tentang mengapa orang tuanya meremehkan aku hanya karena pilihanku terbatas.


Pada saat itu, pertarungan dalam mendapatkan kampus negeri belum selesai. Masih ada beberapa jenis tes lagi, tetapi pastinya aku hanya akan mengikuti SBMPTN.  Orang tuaku tidak punya cukup uang untuk memasukanku ke jalur mandiri. Jadi, ya aku tidak punya kesempatan banyak seperti pacarku.


Dengan merendahkanku karena kesempatanku hanya sedikit, aku merasa sakit hati. Orang tua kekasihku adalah tipikal "orang-orang berpendidikan" dari "keluarga berpendidikan" yang menganggap bahwa kasta seseorang bisa dibedakan dari jenis pendidikan yang ia ambil. Kampus negeri, jurusan bonafide, dan gelar panjang adalah hal yang akan mereka sembah.


Masalahnya, pendidikan bukan hanya masalah niat, tetapi kesempatan.


Banyak orang yang dapat membeli pendidikan karena uang orang tua mereka lebih banyak. Seharusnya, atas hal itu, mereka tak layak sombong. Seharusnya, hal itu membuat mereka tetap merendah dan justru menggunakan privilese mereka agar menjadi orang baik, berakal, dan bermanfaat bagi orang lain yang kurang beruntung. 


Tidak ada gunanya merasa tinggi hanya karena kamu lebih beruntung. Di era digital ini, mungkin banyak orang yang lupa akan hal tersebut.


Tahun ini, aku sudah berkuliah di tempat yang aku inginkan dan siap menyambut mahasiswa baru. Aku sudah putus dengan pacarku karena memang tidak ada gunanya berdebat dengan orang tua. Lagipula, aku tak ingin melanjutkan hubungan yang pernah menyakitkan meskipun saat ini, aku bisa masuk ke kampus yang kuinginkan dengan jalur yang lebih murah. Hanya sekadar pesan untuk kalian semua: tidak ada gunanya meremehkan orang lain hanya karena ia tidak memiliki pendidikan sebaik kamu. 

Post a Comment

0 Comments